Netanyahu Terkejut Tentara Israel Hancurkan Patung Yesus dengan Palu Godam
Selasa, 21 April 2026 - 07:45 WIB
Sikorski memuji Menteri Luar Negeri Israel Gideon Sa'ar karena meminta maaf atas penistaan patung Yesus, dengan menyatakan; "Bagus bahwa Menteri Sa'ar meminta maaf dengan cepat."
Namun, dia kemudian menyatakan bahwa Israel harus belajar dari insiden tersebut. "Tentara IDF sendiri mengakui kejahatan perang. Mereka tidak hanya membunuh warga sipil Palestina tetapi bahkan sandera mereka sendiri," paparnya, yang tampaknya merujuk pada operasi besar Israel di Gaza di mana lebih dari 70.000 warga Palestina tewas serta sandera Israel—korban sampingan dari serangan udara dan darat.
Serangan selama dua tahun itu dilakukan sebagai respons terhadap serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Sa'ar menanggapi dengan menuduh Sikorski menyebarkan "pernyataan yang memfitnah" tentang IDF.
Awalnya, Sa'ar menulis di X: "Perusakan simbol keagamaan Kristen oleh seorang tentara IDF di Lebanon selatan adalah hal yang serius dan memalukan, kami meminta maaf atas insiden ini dan kepada setiap orang Kristen yang perasaannya terluka."
Dalam unggahan selanjutnya, dia menolak komentar Sikorski sebagai "serius, tidak berdasar, dan memfitnah IDF".
“IDF adalah tentara yang profesional dan beretika...Tidak ada tentara serius dari negara demokrasi Barat mana pun yang tidak berusaha belajar dari IDF dan pengalamannya," klaim Sa'ar.
Duta Besar AS untuk Israel, Mike Huckabee, juga mengutuk penistaan patung Yesus yang terjadi di Lebanon selatan, menyerukan “konsekuensi yang cepat, keras, dan terbuka.”
Diperkirakan sekitar 30% penduduk Lebanon beragama Kristen, dan juga satu-satunya negara di Timur Tengah di mana kekuasaan dibagi antara penduduk Muslim (Syiah dan Sunni) dan Kristen—di bawah apa yang dikenal sebagai Pakta Nasional.
Lebanon adalah rumah bagi berbagai minoritas Kristen, termasuk Katolik Maronit—yang sebelumnya merupakan mayoritas di negara itu, tetapi sekarang menjadi minoritas—, Ortodoks Yunani, Katolik Yunani Melkit, dan Apostolik Armenia.
Seperti komunitas agama lain di Lebanon, banyak umat Kristen mendapati diri mereka terjebak dalam baku tembak selama perang Israel melawan kelompok militan Syiah Hizbullah.
Insiden terbaru ini berisiko semakin meningkatkan ketegangan antara Israel dan Lebanon, di tengah gencatan senjata yang rapuh, yang mulai berlaku Kamis lalu.
Konflik yang telah berlangsung lama antara Israel dan milisi Lebanon, Hizbullah, kembali memanas pada 2 Maret, dalam konteks yang lebih luas dari kampanye militer AS dan Israel melawan Iran, yang diluncurkan pada 28 Februari.
Namun, dia kemudian menyatakan bahwa Israel harus belajar dari insiden tersebut. "Tentara IDF sendiri mengakui kejahatan perang. Mereka tidak hanya membunuh warga sipil Palestina tetapi bahkan sandera mereka sendiri," paparnya, yang tampaknya merujuk pada operasi besar Israel di Gaza di mana lebih dari 70.000 warga Palestina tewas serta sandera Israel—korban sampingan dari serangan udara dan darat.
Serangan selama dua tahun itu dilakukan sebagai respons terhadap serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Sa'ar menanggapi dengan menuduh Sikorski menyebarkan "pernyataan yang memfitnah" tentang IDF.
Awalnya, Sa'ar menulis di X: "Perusakan simbol keagamaan Kristen oleh seorang tentara IDF di Lebanon selatan adalah hal yang serius dan memalukan, kami meminta maaf atas insiden ini dan kepada setiap orang Kristen yang perasaannya terluka."
Dalam unggahan selanjutnya, dia menolak komentar Sikorski sebagai "serius, tidak berdasar, dan memfitnah IDF".
“IDF adalah tentara yang profesional dan beretika...Tidak ada tentara serius dari negara demokrasi Barat mana pun yang tidak berusaha belajar dari IDF dan pengalamannya," klaim Sa'ar.
Duta Besar AS untuk Israel, Mike Huckabee, juga mengutuk penistaan patung Yesus yang terjadi di Lebanon selatan, menyerukan “konsekuensi yang cepat, keras, dan terbuka.”
Diperkirakan sekitar 30% penduduk Lebanon beragama Kristen, dan juga satu-satunya negara di Timur Tengah di mana kekuasaan dibagi antara penduduk Muslim (Syiah dan Sunni) dan Kristen—di bawah apa yang dikenal sebagai Pakta Nasional.
Lebanon adalah rumah bagi berbagai minoritas Kristen, termasuk Katolik Maronit—yang sebelumnya merupakan mayoritas di negara itu, tetapi sekarang menjadi minoritas—, Ortodoks Yunani, Katolik Yunani Melkit, dan Apostolik Armenia.
Seperti komunitas agama lain di Lebanon, banyak umat Kristen mendapati diri mereka terjebak dalam baku tembak selama perang Israel melawan kelompok militan Syiah Hizbullah.
Insiden terbaru ini berisiko semakin meningkatkan ketegangan antara Israel dan Lebanon, di tengah gencatan senjata yang rapuh, yang mulai berlaku Kamis lalu.
Konflik yang telah berlangsung lama antara Israel dan milisi Lebanon, Hizbullah, kembali memanas pada 2 Maret, dalam konteks yang lebih luas dari kampanye militer AS dan Israel melawan Iran, yang diluncurkan pada 28 Februari.
Lihat Juga :