Apakah Kamu Mati? Aplikasi yang Sedang Viral di China, Ini Sebabnya
Rabu, 14 Januari 2026 - 13:00 WIB
Peningkatan popularitasnya bertepatan dengan dua tren yang tumpang tindih: semakin banyak anak muda China yang memilih hidup sendirian daripada menikah dan memiliki anak, dan populasi lansia yang semakin meluas dan semakin terisolasi tanpa dukungan keluarga di dekatnya.
Salah satu dari tiga pencipta muda aplikasi tersebut, yang hanya menyebut dirinya sebagai Lyu, mengatakan kepada media lokal bahwa aplikasi itu ditujukan untuk kaum muda yang tinggal sendirian di kota-kota besar, khususnya perempuan sekitar usia 25 tahun.
“Pengguna tersebut kemungkinan akan mengalami rasa kesepian yang kuat karena kurangnya orang untuk diajak berkomunikasi… disertai dengan… kekhawatiran tentang kejadian tak terduga yang terjadi tanpa sepengetahuan siapa pun,” katanya.
China mencatat penurunan populasi selama tiga tahun berturut-turut pada tahun 2024 dan pada tahun 2023 kehilangan statusnya sebagai negara terpadat di dunia yang kini dipegang India.
“Seiring dengan penurunan angka kelahiran, peningkatan harapan hidup, penurunan angka pernikahan, dan peningkatan angka perceraian, faktor-faktor ini menciptakan tren ‘rumah tangga satu orang’,” ujar Wei-Jun Jean Yeung, seorang ahli demografi sosial di Universitas Nasional Singapura, seperti yang dikutip Financial Times, menambahkan kekhawatiran itu nyata.
Salah satu dari tiga pencipta muda aplikasi tersebut, yang hanya menyebut dirinya sebagai Lyu, mengatakan kepada media lokal bahwa aplikasi itu ditujukan untuk kaum muda yang tinggal sendirian di kota-kota besar, khususnya perempuan sekitar usia 25 tahun.
“Pengguna tersebut kemungkinan akan mengalami rasa kesepian yang kuat karena kurangnya orang untuk diajak berkomunikasi… disertai dengan… kekhawatiran tentang kejadian tak terduga yang terjadi tanpa sepengetahuan siapa pun,” katanya.
China mencatat penurunan populasi selama tiga tahun berturut-turut pada tahun 2024 dan pada tahun 2023 kehilangan statusnya sebagai negara terpadat di dunia yang kini dipegang India.
“Seiring dengan penurunan angka kelahiran, peningkatan harapan hidup, penurunan angka pernikahan, dan peningkatan angka perceraian, faktor-faktor ini menciptakan tren ‘rumah tangga satu orang’,” ujar Wei-Jun Jean Yeung, seorang ahli demografi sosial di Universitas Nasional Singapura, seperti yang dikutip Financial Times, menambahkan kekhawatiran itu nyata.
Lihat Juga :