Gencatan Senjata Thailand dan Kamboja Diprediksi Tidak Akan Berjalan Efektif

Sabtu, 27 Desember 2025 - 17:29 WIB

3. Tergantung Kemauan Politik

Seberapa baik gencatan senjata kali ini bertahan sangat bergantung pada kemauan politik. Sentimen nasionalis telah berkobar di kedua negara.

Kamboja, khususnya, telah kehilangan banyak tentara dan banyak peralatan militernya. Mereka telah dipukul mundur dari posisi yang mereka kuasai di perbatasan, dan menderita kerusakan yang luas akibat serangan udara Thailand, keluhan yang dapat mempersulit tercapainya perdamaian abadi.

Perselisihan mengenai perbatasan telah berlangsung lebih dari seabad, tetapi ketegangan meningkat awal tahun ini setelah sekelompok wanita Kamboja menyanyikan lagu-lagu patriotik di sebuah kuil yang dipersengketakan.

Seorang tentara Kamboja tewas dalam bentrokan pada bulan Mei, dan dua bulan kemudian, pada bulan Juli, terjadi pertempuran sengit selama lima hari di sepanjang perbatasan, yang menyebabkan puluhan tentara dan warga sipil tewas. Ribuan warga sipil lainnya mengungsi.

4. Mengandalkan Intervensi Pihak Ketiga

Setelah intervensi Malaysia dan Presiden Trump, gencatan senjata yang rapuh dinegosiasikan antara kedua negara, dan ditandatangani pada akhir Oktober.

Trump menyebut perjanjian itu sebagai "Perjanjian Perdamaian Kuala Lumpur". Perjanjian itu mewajibkan kedua belah pihak untuk menarik senjata berat mereka dari wilayah yang dipersengketakan, dan untuk membentuk tim pengamat sementara untuk memantau wilayah tersebut.

Namun, perjanjian tersebut ditangguhkan oleh Thailand pada bulan November setelah tentara Thailand terluka akibat ranjau darat, dengan Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul mengumumkan bahwa ancaman keamanan "sebenarnya tidak berkurang".
(ahm)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!