4 Alasan Thailand Terus Menyerang Kamboja, Salah Satunya Tak Ada Gencatan Senjata
Minggu, 14 Desember 2025 - 04:40 WIB
Trump memuji “percakapan yang sangat baik” dengan Anutin dan Perdana Menteri Kamboja Hun Manet pada hari Jumat.
“Mereka telah sepakat untuk MENGHENTIKAN semua penembakan efektif malam ini, dan kembali ke Perjanjian Perdamaian asli” yang disepakati pada bulan Juli, tulis Trump di platform Truth Social miliknya.
Amerika Serikat, China, dan Malaysia, sebagai ketua blok regional ASEAN, menengahi gencatan senjata pada bulan Juli setelah gelombang kekerasan awal selama lima hari.
Pada bulan Oktober, Trump mendukung deklarasi bersama lanjutan antara Thailand dan Kamboja, menggembar-gemborkan kesepakatan perdagangan baru setelah mereka setuju untuk memperpanjang gencatan senjata.
Di Thailand, pengungsi Kanyapat Saopria mengatakan dia tidak lagi "percaya pada Kamboja."
"Upaya perdamaian terakhir tidak berhasil... Saya tidak tahu apakah yang ini juga akan berhasil," kata wanita berusia 39 tahun itu kepada AFP.
Di seberang perbatasan, seorang pengungsi Kamboja mengatakan dia "sedih" karena pertempuran belum berhenti meskipun ada intervensi Trump.
“Mereka telah sepakat untuk MENGHENTIKAN semua penembakan efektif malam ini, dan kembali ke Perjanjian Perdamaian asli” yang disepakati pada bulan Juli, tulis Trump di platform Truth Social miliknya.
Amerika Serikat, China, dan Malaysia, sebagai ketua blok regional ASEAN, menengahi gencatan senjata pada bulan Juli setelah gelombang kekerasan awal selama lima hari.
Pada bulan Oktober, Trump mendukung deklarasi bersama lanjutan antara Thailand dan Kamboja, menggembar-gemborkan kesepakatan perdagangan baru setelah mereka setuju untuk memperpanjang gencatan senjata.
3. Tidak Lagi Percaya kepada Kamboja
Namun Thailand menangguhkan perjanjian tersebut pada bulan berikutnya setelah tentara Thailand terluka akibat ranjau darat di perbatasan.Di Thailand, pengungsi Kanyapat Saopria mengatakan dia tidak lagi "percaya pada Kamboja."
"Upaya perdamaian terakhir tidak berhasil... Saya tidak tahu apakah yang ini juga akan berhasil," kata wanita berusia 39 tahun itu kepada AFP.
Di seberang perbatasan, seorang pengungsi Kamboja mengatakan dia "sedih" karena pertempuran belum berhenti meskipun ada intervensi Trump.
Lihat Juga :