Turki Buka Koridor Perdagangan Darat Bersejarah ke Yordania dan Suriah, Integrasi Timur Tengah Menguat?

Senin, 10 November 2025 - 14:29 WIB
Awalnya diresmikan oleh Sultan Ottoman Abdulhamid II pada tahun 1908, Jalur Kereta Api Hejaz dibangun untuk mengangkut para peziarah ke kota-kota suci. Sebagian jalur tersebut masih beroperasi di Yordania, sementara beberapa segmen di Suriah telah tidak aktif sejak tahun konflik 2011. Proyek revitalisasi ini bertujuan untuk menghubungkan kembali rute tersebut dan memperluas peluang perdagangan melalui kemitraan logistik dan investasi baru.

3. Kerja Sama Transportasi Trilateral

Koordinasi regional juga dipercepat melalui kerangka kerja trilateral yang melibatkan Turki, Suriah, dan Yordania. Pertemuan teknis yang diadakan di Amman pada 11 September mempertemukan perwakilan Kementerian Perhubungan dari ketiga negara untuk meningkatkan kerja sama konektivitas jalan raya dan kereta api.

Diskusi difokuskan pada penyederhanaan prosedur perbatasan untuk truk, penyatuan biaya bea cukai, dan identifikasi area untuk rehabilitasi infrastruktur. Turki telah berjanji untuk membiayai pemeliharaan segmen Jalur Kereta Api Hejaz dari Damaskus hingga perbatasan Yordania, sementara Yordania akan mengawasi restorasi lokomotif.

Baik Yordania maupun Suriah juga telah sepakat untuk melakukan studi kelayakan untuk perluasan jalur kereta api baru yang menghubungkan ibu kota mereka dengan Ankara. Para pejabat menggambarkan pertemuan tersebut sebagai persiapan untuk pertemuan tingkat menteri mendatang yang akan menyelesaikan rencana proyek transportasi lintas batas, termasuk peningkatan jalur penyeberangan utama seperti Nasib–Jaber (di perbatasan Yordania–Suriah), Bab Al Hawa (Idlib, Suriah barat laut), dan jalur Gaziantep–Aleppo.

4. Gerbang Menuju Kebangkitan Ekonomi

Mohammed Omar Rahal, Wakil Menteri Transportasi Suriah untuk Transportasi Jalan, mengatakan bahwa kerja sama yang diperbarui ini merupakan investasi strategis dalam stabilitas regional. "Konektivitas jalan raya dan kereta api antara Suriah, Yordania, dan Turki merupakan pintu gerbang menuju peluang baru bagi pertumbuhan ekonomi yang mengurangi biaya transportasi dan mempersingkat waktu pengiriman ke pasar," ujarnya.

Rahal menekankan bahwa inisiatif semacam itu akan merevitalisasi upaya perdagangan, investasi, dan rekonstruksi sekaligus mendorong saling ketergantungan antarnegara tetangga. Bagi Turki, proyek ini menandai tonggak sejarah lain dalam visinya untuk menjadi pusat transportasi yang menghubungkan Asia, Timur Tengah, dan Eropa melalui jaringan darat yang terintegrasi.
(ahm)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!