Batu Mars Terbesar di Dunia Terjual Seharga Rp88 Miliar di Pelelangan
Kamis, 09 Oktober 2025 - 16:46 WIB
“Terkikis oleh perjalanannya melintasi ruang dan waktu, ukurannya yang sangat besar dan warna merahnya yang tak terbantahkan menjadikannya penemuan langka. Meteorit yang luar biasa ini memberikan hubungan yang nyata dengan planet merah — tetangga langit kita yang telah lama memikat imajinasi manusia,” tambahnya.
Analisis komposisi internal meteorit tersebut mengungkapkan meteorit tersebut kemungkinan terkikis dari permukaan Mars dan terlempar ke luar angkasa oleh tumbukan asteroid yang begitu dahsyat hingga mengubah sebagian meteorit menjadi kaca.
Kerak kaca juga dapat terlihat di permukaannya, terbentuk saat melesat menembus atmosfer Bumi, menurut Sotheby’s.
Bagi sebagian orang, fakta bahwa meteorit itu dilelang, alih-alih disumbangkan untuk sains, merupakan hal yang memprihatinkan.
"Akan sangat disayangkan jika meteorit itu lenyap begitu saja ke dalam brankas seorang oligarki. Seharusnya meteorit itu berada di museum, tempat ia dapat dipelajari, dan dinikmati oleh anak-anak, keluarga, dan masyarakat umum," ujar Steve Brusatte, profesor paleontologi dan evolusi di Universitas Edinburgh, Skotlandia, kepada CNN sebelum pelelangan.
Namun bagi Julia Cartwright, seorang ilmuwan planet dan Peneliti Independen di Institute for Space/School of Physics & Astronomy di Universitas Leicester, Inggris, ada keseimbangan yang harus dicapai.
"Pada akhirnya, jika tidak ada pasar untuk mencari, mengumpulkan, dan menjual meteorit, koleksi kita tidak akan sebanyak ini — dan inilah yang mendorong sains!" ujarnya kepada CNN pada 9 Juli, menggambarkan "hubungan simbiosis" antara peneliti dan kolektor.
Analisis komposisi internal meteorit tersebut mengungkapkan meteorit tersebut kemungkinan terkikis dari permukaan Mars dan terlempar ke luar angkasa oleh tumbukan asteroid yang begitu dahsyat hingga mengubah sebagian meteorit menjadi kaca.
Kerak kaca juga dapat terlihat di permukaannya, terbentuk saat melesat menembus atmosfer Bumi, menurut Sotheby’s.
Bagi sebagian orang, fakta bahwa meteorit itu dilelang, alih-alih disumbangkan untuk sains, merupakan hal yang memprihatinkan.
"Akan sangat disayangkan jika meteorit itu lenyap begitu saja ke dalam brankas seorang oligarki. Seharusnya meteorit itu berada di museum, tempat ia dapat dipelajari, dan dinikmati oleh anak-anak, keluarga, dan masyarakat umum," ujar Steve Brusatte, profesor paleontologi dan evolusi di Universitas Edinburgh, Skotlandia, kepada CNN sebelum pelelangan.
Namun bagi Julia Cartwright, seorang ilmuwan planet dan Peneliti Independen di Institute for Space/School of Physics & Astronomy di Universitas Leicester, Inggris, ada keseimbangan yang harus dicapai.
"Pada akhirnya, jika tidak ada pasar untuk mencari, mengumpulkan, dan menjual meteorit, koleksi kita tidak akan sebanyak ini — dan inilah yang mendorong sains!" ujarnya kepada CNN pada 9 Juli, menggambarkan "hubungan simbiosis" antara peneliti dan kolektor.
Lihat Juga :