Profil Dipangkorn Rasmijoti, Putra Raja Thailand yang Jadi Pewaris Takhta tapi Diduga Autis
Senin, 06 Oktober 2025 - 15:16 WIB
Pangeran Dipangkorn memulai pendidikan dasarnya di Chitralada School, sekolah eksklusif yang berada di kompleks istana. Namun, sejak usia belasan tahun, dia lebih banyak tinggal di Jerman, mengikuti pendidikan di Bavarian International School (BIS).
Raja Vajiralongkorn sendiri diketahui menghabiskan banyak waktu di Jerman, jauh dari sorotan publik Bangkok. Kondisi ini membuat Dipangkorn tumbuh dalam lingkungan yang relatif tertutup dari publik Thailand, berbeda dengan pewaris takhta di negara monarki lain yang biasanya tampil aktif dalam kegiatan kenegaraan sejak muda.
Salah satu isu paling sensitif yang mengiringi sosok Dipangkorn adalah dugaan bahwa dia menderita autisme atau gangguan perkembangan neurologis.
Laporan dari Britannica dan penulis investigatif Andrew MacGregor Marshall menyebut bahwa Dipangkorn tampak mengalami autisme berat, meski tidak pernah ada konfirmasi resmi dari istana.
Dia jarang muncul di acara publik, tidak banyak berinteraksi dengan masyarakat, dan perannya dalam kegiatan kerajaan sangat terbatas.
Kondisi Dipangkorn—ditambah krisis internal dalam keluarga kerajaan—menjadikan isu suksesi Kerajaan Thailand sangat rumit.
Sejumlah analis dari Council on Foreign Relations menyebut bahwa sang raja kemungkinan masih ingin mempertahankan sistem pewarisan patriarkal. Namun, jika Dipangkorn dianggap tidak mampu secara fisik atau mental untuk naik takhta, kerajaan mungkin menunjuk wali raja atau mencari pewaris alternatif.
Situasi makin pelik ketika Putri Bajrakitiyabha, sepupu Dipangkorn yang juga salah satu calon potensial pewaris takhta, mengalami koma sejak akhir 2022. Hal ini membuat garis keturunan kerajaan semakin sempit.
Raja Vajiralongkorn sendiri diketahui menghabiskan banyak waktu di Jerman, jauh dari sorotan publik Bangkok. Kondisi ini membuat Dipangkorn tumbuh dalam lingkungan yang relatif tertutup dari publik Thailand, berbeda dengan pewaris takhta di negara monarki lain yang biasanya tampil aktif dalam kegiatan kenegaraan sejak muda.
Salah satu isu paling sensitif yang mengiringi sosok Dipangkorn adalah dugaan bahwa dia menderita autisme atau gangguan perkembangan neurologis.
Laporan dari Britannica dan penulis investigatif Andrew MacGregor Marshall menyebut bahwa Dipangkorn tampak mengalami autisme berat, meski tidak pernah ada konfirmasi resmi dari istana.
Dia jarang muncul di acara publik, tidak banyak berinteraksi dengan masyarakat, dan perannya dalam kegiatan kerajaan sangat terbatas.
Kondisi Dipangkorn—ditambah krisis internal dalam keluarga kerajaan—menjadikan isu suksesi Kerajaan Thailand sangat rumit.
Sejumlah analis dari Council on Foreign Relations menyebut bahwa sang raja kemungkinan masih ingin mempertahankan sistem pewarisan patriarkal. Namun, jika Dipangkorn dianggap tidak mampu secara fisik atau mental untuk naik takhta, kerajaan mungkin menunjuk wali raja atau mencari pewaris alternatif.
Situasi makin pelik ketika Putri Bajrakitiyabha, sepupu Dipangkorn yang juga salah satu calon potensial pewaris takhta, mengalami koma sejak akhir 2022. Hal ini membuat garis keturunan kerajaan semakin sempit.
(mas)
Lihat Juga :