Profil Dipangkorn Rasmijoti, Putra Raja Thailand yang Jadi Pewaris Takhta tapi Diduga Autis
Senin, 06 Oktober 2025 - 15:16 WIB
loading...
Pangeran Dipangkorn Rasmijoti, satu-satunya Putra Raja Thailand Maha Vajiralongkorn yang diakui kerajaan. Dia jadi kandidat kuat pewaris takhta, namun diduga menderita autisme. Foto/wellwishes.royaloffice.th
A
A
A
JAKARTA - Pangeran Dipangkorn Rasmijoti tercatat sebagai satu-satunya Putra Raja Thailand Maha Vajiralongkorn yang diakui kerajaan. Status itu menjadikannya sebagai kandidat kuat pewaris takhta, namun dia diduga menderita autisme.
Pangeran Dipangkorn merupakan putra Raja Maha Vajiralongkorn dengan istri ketiganya, Srirasmi Suwadee. Meski Dipangkorn jadi kandidat pewaris takhta, ibunya telah diceraikan sang raja, lalu dikeluarkan dari kerajaan dan gelar bangsawannya dicabut karena skandal korupsi yang melibatkan keluarganya.
Baca Juga: Karier Militer Mayjen Sineenat Wongvajirapakdi, Selir Resmi Raja Thailand Sepanjang Sejarah
Dipangkorn Rasmijoti lahir pada 29 April 2005 di Rumah Sakit Siriraj, Bangkok, melalui operasi sesar.
Dia adalah anak hasil pernikahan Raja Vajiralongkorn dengan istri ketiganya, Srirasmi Suwadee, seorang mantan dayang istana yang kemudian diangkat menjadi putri kerajaan. Srirasmi dinikahi Vajiralongkorn yang saat itu berstatus Putra Mahkota.
Nama lengkap Dipangkorn adalah Dipangkorn Rasmijoti Maha Vajirottamangkun Sirivibulyarajakumar. Nama tersebut diumumkan secara resmi oleh kakeknya, mendiang Raja Bhumibol Adulyadej (Rama IX), pada 15 Juni 2005.
Sebulan setelah kelahirannya, kerajaan menggelar upacara besar-besaran untuk memperingati kelahiran sang pangeran, menandakan betapa pentingnya posisi Dipangkorn dalam garis suksesi.
Menurut undang-undang suksesi Kerajaan Thailand tahun 1924, hanya anak laki-laki resmi dari pernikahan sah yang bisa mewarisi takhta.
Dipangkorn memenuhi kriteria tersebut, di mana dia satu-satunya anak laki-laki sah dari pernikahan resmi sang raja.
Namun, Amandemen Konstitusi 1974 juga memungkinkan anak perempuan raja menjadi pewaris takhta.
Sebenarnya, ada empat anak laki-laki Raja Vajiralongkorn dari pernikahan keduanya dengan Sujarinee Vivacharawongse. Tapi mereka tidak diakui secara resmi oleh kerajaan setelah melarikan diri bersama ibunya dan hidup di pengasingan di Amerika Serikat. Gelar kerajaan untuk Sujarinee dan empat anak laki-lakinya telah dicabut dan sampai sekarang tidak diakui.
Namun, meski Dipangkorn menjadi satu-satunya pewaris yang sah, statusnya sebagai putra mahkota belum pernah diumumkan secara resmi oleh istana. Hal inilah yang menimbulkan berbagai spekulasi politik dan sosial.
Pangeran Dipangkorn memulai pendidikan dasarnya di Chitralada School, sekolah eksklusif yang berada di kompleks istana. Namun, sejak usia belasan tahun, dia lebih banyak tinggal di Jerman, mengikuti pendidikan di Bavarian International School (BIS).
Raja Vajiralongkorn sendiri diketahui menghabiskan banyak waktu di Jerman, jauh dari sorotan publik Bangkok. Kondisi ini membuat Dipangkorn tumbuh dalam lingkungan yang relatif tertutup dari publik Thailand, berbeda dengan pewaris takhta di negara monarki lain yang biasanya tampil aktif dalam kegiatan kenegaraan sejak muda.
Salah satu isu paling sensitif yang mengiringi sosok Dipangkorn adalah dugaan bahwa dia menderita autisme atau gangguan perkembangan neurologis.
Laporan dari Britannica dan penulis investigatif Andrew MacGregor Marshall menyebut bahwa Dipangkorn tampak mengalami autisme berat, meski tidak pernah ada konfirmasi resmi dari istana.
Dia jarang muncul di acara publik, tidak banyak berinteraksi dengan masyarakat, dan perannya dalam kegiatan kerajaan sangat terbatas.
Kondisi Dipangkorn—ditambah krisis internal dalam keluarga kerajaan—menjadikan isu suksesi Kerajaan Thailand sangat rumit.
Sejumlah analis dari Council on Foreign Relations menyebut bahwa sang raja kemungkinan masih ingin mempertahankan sistem pewarisan patriarkal. Namun, jika Dipangkorn dianggap tidak mampu secara fisik atau mental untuk naik takhta, kerajaan mungkin menunjuk wali raja atau mencari pewaris alternatif.
Situasi makin pelik ketika Putri Bajrakitiyabha, sepupu Dipangkorn yang juga salah satu calon potensial pewaris takhta, mengalami koma sejak akhir 2022. Hal ini membuat garis keturunan kerajaan semakin sempit.
Pangeran Dipangkorn merupakan putra Raja Maha Vajiralongkorn dengan istri ketiganya, Srirasmi Suwadee. Meski Dipangkorn jadi kandidat pewaris takhta, ibunya telah diceraikan sang raja, lalu dikeluarkan dari kerajaan dan gelar bangsawannya dicabut karena skandal korupsi yang melibatkan keluarganya.
Baca Juga: Karier Militer Mayjen Sineenat Wongvajirapakdi, Selir Resmi Raja Thailand Sepanjang Sejarah
Profil Pangeran Dipangkorn Rasmijoti
Dipangkorn Rasmijoti lahir pada 29 April 2005 di Rumah Sakit Siriraj, Bangkok, melalui operasi sesar.
Dia adalah anak hasil pernikahan Raja Vajiralongkorn dengan istri ketiganya, Srirasmi Suwadee, seorang mantan dayang istana yang kemudian diangkat menjadi putri kerajaan. Srirasmi dinikahi Vajiralongkorn yang saat itu berstatus Putra Mahkota.
Nama lengkap Dipangkorn adalah Dipangkorn Rasmijoti Maha Vajirottamangkun Sirivibulyarajakumar. Nama tersebut diumumkan secara resmi oleh kakeknya, mendiang Raja Bhumibol Adulyadej (Rama IX), pada 15 Juni 2005.
Sebulan setelah kelahirannya, kerajaan menggelar upacara besar-besaran untuk memperingati kelahiran sang pangeran, menandakan betapa pentingnya posisi Dipangkorn dalam garis suksesi.
Putra Tunggal, Pewaris Tunggal?
Menurut undang-undang suksesi Kerajaan Thailand tahun 1924, hanya anak laki-laki resmi dari pernikahan sah yang bisa mewarisi takhta.
Dipangkorn memenuhi kriteria tersebut, di mana dia satu-satunya anak laki-laki sah dari pernikahan resmi sang raja.
Namun, Amandemen Konstitusi 1974 juga memungkinkan anak perempuan raja menjadi pewaris takhta.
Sebenarnya, ada empat anak laki-laki Raja Vajiralongkorn dari pernikahan keduanya dengan Sujarinee Vivacharawongse. Tapi mereka tidak diakui secara resmi oleh kerajaan setelah melarikan diri bersama ibunya dan hidup di pengasingan di Amerika Serikat. Gelar kerajaan untuk Sujarinee dan empat anak laki-lakinya telah dicabut dan sampai sekarang tidak diakui.
Namun, meski Dipangkorn menjadi satu-satunya pewaris yang sah, statusnya sebagai putra mahkota belum pernah diumumkan secara resmi oleh istana. Hal inilah yang menimbulkan berbagai spekulasi politik dan sosial.
Masa Kecil Tertutup, Diduga Menderita Autisme
Pangeran Dipangkorn memulai pendidikan dasarnya di Chitralada School, sekolah eksklusif yang berada di kompleks istana. Namun, sejak usia belasan tahun, dia lebih banyak tinggal di Jerman, mengikuti pendidikan di Bavarian International School (BIS).
Raja Vajiralongkorn sendiri diketahui menghabiskan banyak waktu di Jerman, jauh dari sorotan publik Bangkok. Kondisi ini membuat Dipangkorn tumbuh dalam lingkungan yang relatif tertutup dari publik Thailand, berbeda dengan pewaris takhta di negara monarki lain yang biasanya tampil aktif dalam kegiatan kenegaraan sejak muda.
Salah satu isu paling sensitif yang mengiringi sosok Dipangkorn adalah dugaan bahwa dia menderita autisme atau gangguan perkembangan neurologis.
Laporan dari Britannica dan penulis investigatif Andrew MacGregor Marshall menyebut bahwa Dipangkorn tampak mengalami autisme berat, meski tidak pernah ada konfirmasi resmi dari istana.
Dia jarang muncul di acara publik, tidak banyak berinteraksi dengan masyarakat, dan perannya dalam kegiatan kerajaan sangat terbatas.
Kondisi Dipangkorn—ditambah krisis internal dalam keluarga kerajaan—menjadikan isu suksesi Kerajaan Thailand sangat rumit.
Sejumlah analis dari Council on Foreign Relations menyebut bahwa sang raja kemungkinan masih ingin mempertahankan sistem pewarisan patriarkal. Namun, jika Dipangkorn dianggap tidak mampu secara fisik atau mental untuk naik takhta, kerajaan mungkin menunjuk wali raja atau mencari pewaris alternatif.
Situasi makin pelik ketika Putri Bajrakitiyabha, sepupu Dipangkorn yang juga salah satu calon potensial pewaris takhta, mengalami koma sejak akhir 2022. Hal ini membuat garis keturunan kerajaan semakin sempit.
(mas)
Lihat Juga :