3 Alasan Mossad Tolak Perintah Membunuh Pemimpin Hamas di Qatar

Senin, 15 September 2025 - 07:11 WIB

3. Fokus Menyelamatkan Sandera

Badan intelijen Mossad menolak melaksanakan operasi darat yang direncanakan untuk membunuh para pemimpin Hamas di Doha, karena khawatir operasi tersebut akan menggagalkan perundingan gencatan senjata sandera dan merusak hubungan badan tersebut dengan Qatar, mediator utama Timur Tengah, lapor Washington Post, Jumat.

Sebaliknya, Israel terpaksa melakukan serangan udara, yang kini semakin diyakini oleh badan keamanan Israel gagal membunuh petinggi Hamas yang berkumpul di lokasi serangan hari Selasa di Doha.

Keyakinan tersebut diperkuat pada hari Jumat, ketika Hamas mengumumkan bahwa pemimpinnya yang berbasis di Qatar, Khalil al-Hayya, melakukan upacara pemakaman untuk putranya yang "syahid", Hammam, yang secara efektif menepis rumor awal bahwa pemimpin kelompok teror tersebut tewas dalam serangan tersebut.

Melansir Israel Times, di tengah dampak dari serangan yang tampaknya gagal, laporan mulai bermunculan mengenai penentangan signifikan terhadap rencana tersebut, baik dari segi cara pelaksanaannya maupun waktu di tengah perundingan penyanderaan yang sedang berlangsung.

Seorang pejabat senior yang mengetahui perundingan mengenai kesepakatan pembebasan sandera-gencatan senjata mengatakan kepada Channel 12 bahwa sebagian besar lembaga pertahanan merekomendasikan agar serangan itu ditunda.

“Posisinya jelas — ada kesepakatan untuk pengembalian para sandera di atas meja, dan negosiasi harus diselesaikan. Semua orang memahami konsekuensi bagi para sandera dan bahwa operasi seperti ini pada saat ini dapat membahayakan kemungkinan tersebut,” kata pejabat tersebut.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump, yang mengatakan dia "sangat tidak senang dengan setiap aspek" operasi tersebut.
(ahm)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!