Sekutu Amerika Serikat di Timur Tengah yang Saling Bermusuhan, Kebanyakan Menyangkut Israel
Senin, 19 Mei 2025 - 15:43 WIB
Amerika Serikat selama ini memainkan peran sebagai penengah antara kepentingan kedua sekutunya ini. Melalui kebijakan luar negerinya, AS berupaya mendorong normalisasi hubungan antara Israel dan negara-negara Arab, termasuk Arab Saudi.
Namun, normalisasi hubungan ini tidak serta-merta menghapus ketegangan yang ada. Isu Palestina tetap menjadi batu sandungan utama. Bagi Arab Saudi, pengakuan terhadap negara Palestina dan penghentian aneksasi wilayah oleh Israel adalah syarat penting sebelum menjalin hubungan diplomatik penuh.
Permusuhan antara Israel dan Mesir bermula dari serangkaian perang besar, seperti Perang Arab-Israel tahun 1948, Krisis Suez tahun 1956, dan Perang Yom Kippur pada 1973. Saat itu, Mesir menjadi pemimpin blok negara-negara Arab yang menentang keberadaan Israel, sementara Israel berusaha mempertahankan eksistensinya.
Konflik ini baru mereda setelah penandatanganan Perjanjian Camp David tahun 1978, yang dimediasi oleh Amerika Serikat dan menghasilkan kesepakatan damai antara kedua negara. Mesir menjadi negara Arab pertama yang mengakui Israel secara resmi.
Walaupun secara diplomatik hubungan mereka sudah pulih, sentimen publik dan dinamika politik domestik di Mesir masih mencerminkan ketegangan terhadap Israel. Banyak warga Mesir yang menolak normalisasi hubungan, terutama karena isu Palestina yang belum terselesaikan.
Di sisi lain, Israel memandang Mesir sebagai mitra penting dalam menjaga stabilitas kawasan, khususnya di wilayah perbatasan Gaza dan Sinai yang rawan konflik.
Amerika Serikat berada di tengah-tengah hubungan ini sebagai penyeimbang. Washington memberikan bantuan miliaran dolar setiap tahun kepada Mesir dan Israel untuk mempertahankan aliansi strategis ini.
AS juga mendorong kerja sama antara kedua negara dalam isu-isu seperti perang melawan terorisme dan pengendalian kelompok ekstremis.
Namun, normalisasi hubungan ini tidak serta-merta menghapus ketegangan yang ada. Isu Palestina tetap menjadi batu sandungan utama. Bagi Arab Saudi, pengakuan terhadap negara Palestina dan penghentian aneksasi wilayah oleh Israel adalah syarat penting sebelum menjalin hubungan diplomatik penuh.
2. Israel-Mesir
Permusuhan antara Israel dan Mesir bermula dari serangkaian perang besar, seperti Perang Arab-Israel tahun 1948, Krisis Suez tahun 1956, dan Perang Yom Kippur pada 1973. Saat itu, Mesir menjadi pemimpin blok negara-negara Arab yang menentang keberadaan Israel, sementara Israel berusaha mempertahankan eksistensinya.
Konflik ini baru mereda setelah penandatanganan Perjanjian Camp David tahun 1978, yang dimediasi oleh Amerika Serikat dan menghasilkan kesepakatan damai antara kedua negara. Mesir menjadi negara Arab pertama yang mengakui Israel secara resmi.
Walaupun secara diplomatik hubungan mereka sudah pulih, sentimen publik dan dinamika politik domestik di Mesir masih mencerminkan ketegangan terhadap Israel. Banyak warga Mesir yang menolak normalisasi hubungan, terutama karena isu Palestina yang belum terselesaikan.
Di sisi lain, Israel memandang Mesir sebagai mitra penting dalam menjaga stabilitas kawasan, khususnya di wilayah perbatasan Gaza dan Sinai yang rawan konflik.
Amerika Serikat berada di tengah-tengah hubungan ini sebagai penyeimbang. Washington memberikan bantuan miliaran dolar setiap tahun kepada Mesir dan Israel untuk mempertahankan aliansi strategis ini.
AS juga mendorong kerja sama antara kedua negara dalam isu-isu seperti perang melawan terorisme dan pengendalian kelompok ekstremis.
3. Bahrain-Qatar
Lihat Juga :