IAEFA Sebut Jumlah Uranium Iran Meningkat Drastis

Senin, 07 September 2020 - 12:15 WIB
Sebelumnya, Teheran menyebutkan setuju dengan iktikad baik mengizinkan badan pemeriksa nuklir memeriksa situs untuk menyelesaikan masalah terkait dengan pengamanan nuklir. IAEA sebelumnya mengkritik Iran karena tidak menjawab pertanyaan badan itu tentang kemungkinan adanya bahan nuklir yang tidak diumumkan dan kegiatan terkait nuklir di dua lokasi tersebut sehingga menolak memberi akses bagi IAEA untuk memeriksanya.

Dalam pernyataan terbaru, IAEA itu mengatakan Iran telah memberikan akses kepada pengawas badan ke lokasi untuk mengambil sampel lingkungan. Sampel akan dianalisis oleh laboratorium yang merupakan bagian dari jaringan badan itu.

Sebelumnya, Inggris, Prancis, Jerman, China, dan Rusia akan menyelamatkan kesepakatan nuklir Iran pada 2015 setelah Amerika Serikat (AS) menarik diri pada tahun lalu. Pertemuan itu disepakati pada September lalu, setelah AS meminta pemberlakuan sanksi internasional kembali terhadap Iran dan perpanjangan embargo senjata terhadap Teheran.

Mikhail Ulyanov, Duta Besar Rusia untuk organisasi internasional di Wina, mengatakan para partisipan mendiskusikan banyak topik. Pertemuan yang dipimpin pejabat senior Uni Eropa Helga-Maria Schmid dengan para deputi menteri luar negeri dari Inggris, China, Prancis, Jerman, Iran, dan Rusia. (Lihat videonya: Kemarau Panjang, Warga Kabupaten Bekasi Mengalami Kekeringan)

Mark Fitzpatrick, peneliti International Institute for Strategic Studies, mengungkapkan kesepakatan itu akan memberikan akses Iran pada dunia. “Kesepakatan itu juga akan mengisolasi AS,” ujarnya. Namun, dia mengungkapkan, aktivitas nuklir Iran tetap menjadi perhatian negara tersebut. (Muh Shamil)
(ysw)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!