Siapa TRF? Kelompok Pembantai 26 Turis Hindu di 'Mini Swiss' Kashmir yang Bikin Dunia Marah
Kamis, 24 April 2025 - 11:38 WIB
Menteri Dalam Negeri India, Amit Shah, tiba di Srinagar, ibu kota wilayah yang disengketakan dengan Pakistan tersebut, saat belasungkawa mengalir dari para pemimpin dunia, termasuk Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin.
Perdana Menteri India Narendra Modi menulis di media sosial: "Mereka yang berada di balik tindakan keji ini akan diadili ... mereka tidak akan dibiarkan!"
Baca Juga: Marah 26 Turis Hindu Dibantai di Kashmir, India Lakukan 5 Pembalasan pada Pakistan
Dalam sebuah pesan yang muncul di Telegram, TRF menentang pemberian izin tinggal kepada "orang luar", yang menurut para kritikus dapat membantu India mengubah demografi wilayah yang disengketakan di Kashmir.
"Akibatnya, kekerasan akan diarahkan kepada mereka yang mencoba menetap secara ilegal," kata kelompok bersenjata tersebut.
Meskipun target serangan adalah wisatawan—bukan penduduk yang baru tiba yang menjadikan Kashmir sebagai rumah mereka—pilihan kelompok itu untuk mengeklaim tanggung jawab melalui Telegram tidak mengejutkan para pejabat keamanan India.
TRF terkadang masih disebut sebagai "front virtual" di dalam aparat keamanan di Kashmir, karena begitulah awalnya.
Setelah pemerintah India secara sepihak mencabut otonomi parsial Kashmir pada bulan Agustus 2019 dan memberlakukan tindakan keras selama berbulan-bulan, kelompok itu pertama kali terbentuk dengan mulai mengirim pesan di media sosial.
Perdana Menteri India Narendra Modi menulis di media sosial: "Mereka yang berada di balik tindakan keji ini akan diadili ... mereka tidak akan dibiarkan!"
Baca Juga: Marah 26 Turis Hindu Dibantai di Kashmir, India Lakukan 5 Pembalasan pada Pakistan
Siapa Itu TRF?
Dalam sebuah pesan yang muncul di Telegram, TRF menentang pemberian izin tinggal kepada "orang luar", yang menurut para kritikus dapat membantu India mengubah demografi wilayah yang disengketakan di Kashmir.
"Akibatnya, kekerasan akan diarahkan kepada mereka yang mencoba menetap secara ilegal," kata kelompok bersenjata tersebut.
Meskipun target serangan adalah wisatawan—bukan penduduk yang baru tiba yang menjadikan Kashmir sebagai rumah mereka—pilihan kelompok itu untuk mengeklaim tanggung jawab melalui Telegram tidak mengejutkan para pejabat keamanan India.
TRF terkadang masih disebut sebagai "front virtual" di dalam aparat keamanan di Kashmir, karena begitulah awalnya.
Setelah pemerintah India secara sepihak mencabut otonomi parsial Kashmir pada bulan Agustus 2019 dan memberlakukan tindakan keras selama berbulan-bulan, kelompok itu pertama kali terbentuk dengan mulai mengirim pesan di media sosial.
Lihat Juga :