Meski Mesra dengan Putin, 3 Alasan Donald Trump Perpanjang Sanksi untuk Rusia selama 12 Bulan
Minggu, 13 April 2025 - 18:04 WIB
Donald Trump perpanjang sanksi untuk Rusia selama 12 bulan. Foto/X/@russembkenya
WASHINGTON - Presiden Donald Trump telah memperpanjang sanksi AS terhadap Rusia selama satu tahun lagi, berdasarkan anggapan bahwa Moskow masih menimbulkan ancaman serius terhadap keamanan nasional negara tersebut.
Washington memberlakukan pembatasan hukuman terhadap Rusia setelah negara itu menyerap Krimea menyusul referendum yang diadakan pada tahun 2014, dan kemudian atas dugaan campur tangan Moskow dalam pemilihan umum Amerika. Sanksi tersebut diperluas secara drastis menyusul eskalasi konflik Ukraina pada Februari 2022.
Hal ini terutama merujuk pada Perintah Eksekutif 14024 yang ditandatangani oleh mantan Presiden Joe Biden pada April 2021 sebagai tanggapan atas "ancaman yang tidak biasa dan luar biasa terhadap keamanan nasional, kebijakan luar negeri, dan ekonomi Amerika Serikat" yang diduga ditimbulkan oleh Rusia.
Baca Juga: Iran dan AS di Ambang Perang Nuklir
Washington memberlakukan pembatasan hukuman terhadap Rusia setelah negara itu menyerap Krimea menyusul referendum yang diadakan pada tahun 2014, dan kemudian atas dugaan campur tangan Moskow dalam pemilihan umum Amerika. Sanksi tersebut diperluas secara drastis menyusul eskalasi konflik Ukraina pada Februari 2022.
Meski Mesra dengan Putin, 3 Alasan Donald Trump Perpanjang Sanksi untuk Rusia selama 12 Bulan
1. Rusia Tetap Dianggap Musuh AS
Perpanjangan terakhir yang disetujui oleh Trump dan tertanggal 10 April 2025 telah diunggah ke situs web Federal Register, yang mengumumkan "Kelanjutan Keadaan Darurat Nasional Terkait dengan Aktivitas Asing Berbahaya Tertentu dari Pemerintah Federasi Rusia."Hal ini terutama merujuk pada Perintah Eksekutif 14024 yang ditandatangani oleh mantan Presiden Joe Biden pada April 2021 sebagai tanggapan atas "ancaman yang tidak biasa dan luar biasa terhadap keamanan nasional, kebijakan luar negeri, dan ekonomi Amerika Serikat" yang diduga ditimbulkan oleh Rusia.
Baca Juga: Iran dan AS di Ambang Perang Nuklir
2. Rusia Mengintervensi Pemilu AS dan Sekutunya
Di antara aktivitas "berbahaya" yang dikaitkan dengan Rusia dalam dokumen tersebut adalah "upaya untuk merusak pelaksanaan pemilihan umum demokratis yang bebas dan adil serta lembaga-lembaga demokratis di Amerika Serikat dan sekutu serta mitranya."Lihat Juga :