Perdagangan Pengantin Kian Marak, China Dituding Tutup Mata

Selasa, 28 Januari 2025 - 09:37 WIB
Pada 2024, seorang perempuan di Bangladesh dipaksa menikahkan putrinya dengan seorang pria China bernama Cui Po Wei dengan dalih bahwa pria tersebut beragama Islam, menetap di negara tersebut, dan bekerja di kota Gazipur. Namun, sang pengantin perempuan ternyata dikirim ke rumah bordil di China. Selanjutnya, sang ibu mengajukan pengaduan terhadap suami dan mereka yang terlibat dalam pengaturan pernikahan tersebut.

Baca Juga: Dominasi China dan Gejolak Geopolitik dalam Eksplorasi Mineral Laut Dalam

“Para terdakwa adalah pedagang manusia terorganisir yang memanfaatkan ketidakberdayaan kami, dan menjual putri saya ke China untuk eksploitasi seksual dan prostitusi paksa,” katanya dalam pengaduan tersebut.

Kedutaan Besar China tidak mau terlibat dalam masalah itu dengan mengatakan bahwa mereka tidak menerima pemberitahuan resmi apa pun dari Bangladesh. Beberapa tahun lalu, otoritas Nepal menangkap empat pria China yang memperdagangkan lima perempuan Nepal ke China.

Pakistan mengalami lonjakan perdagangan pengantin perempuan karena jumlah warga China meningkat di negara itu untuk pelaksanaan Koridor Ekonomi China-Pakistan (CPEC).

Beberapa tahun lalu, lebih dari 600 gadis Pakistan yang miskin dijual kepada pria China, menurut penyelidikan federal. Para perempuan ini menjadi sasaran pelecehan, kehamilan paksa, dan pelacuran paksa.

Namun, Islamabad tidak mengambil tindakan apa pun. "Pemerintah secara mengkhawatirkan mengabaikan mereka, karena khawatir penyelidikan akan merusak hubungannya dengan China,” kata Marcus Andreopoulos, seorang peneliti senior di Asia-Pacific Foundation.

"Di masa lalu, ada hubungan antara pelaku jahat yang terlibat dalam perdagangan manusia dan lembaga negara Pakistan lainnya,” sambung dia.

Kecaman Amerika Serikat

Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!