Andai Rusia Tak Punya Senjata Nuklir, NATO Akan Kerahkan Tentara Bantu Ukraina
Senin, 11 November 2024 - 09:41 WIB
Komandan militer NATO akui akan kerahkan tentara membantu Ukraina jika Rusia tidak memiliki senjata nuklir. Foto/Departemen Energi AS
PRAHA - Tentara Sekutu NATO akan dikerahkan ke Ukraina untuk melawan pasukan Rusia jika Moskow tidak memiliki senjata nuklir. Demikian disampaikan kepala komite militer aliansi tersebut, Laksamana Rob Bauer.
"Saya benar-benar yakin jika Rusia tidak memiliki senjata nuklir, kami akan berada di Ukraina, mengusir mereka," kata Bauer, yang kan segera pensiun sebagai kepala Komite Militer NATO, saat tampil di KTT Pertahanan IISS di Praha, Republik Ceko, Minggu, yang dilansir Newsweek, Senin (11/11/2024).
Rusia memiliki persediaan senjata nuklir terbesar di dunia, diikuti oleh persenjataan nuklir Amerika Serikat (AS). Jika digabungkan, Moskow dan Washington mengendalikan sekitar 90 persen senjata nuklir di seluruh dunia.
Baca Juga: Putin: Barat Ceroboh karena Serukan Kekalahan Rusia Pemilik Nuklir Terbesar di Dunia
Saat pasukan Moskow menyerbu Ukraina pada akhir Februari 2022, Presiden Rusia Vladimir Putin menempatkan pasukan penangkal nuklir negaranya dalam siaga tinggi.
Beberapa bulan kemudian, Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengatakan risiko konflik nuklir telah menjadi cukup besar.
"Saya benar-benar yakin jika Rusia tidak memiliki senjata nuklir, kami akan berada di Ukraina, mengusir mereka," kata Bauer, yang kan segera pensiun sebagai kepala Komite Militer NATO, saat tampil di KTT Pertahanan IISS di Praha, Republik Ceko, Minggu, yang dilansir Newsweek, Senin (11/11/2024).
Rusia memiliki persediaan senjata nuklir terbesar di dunia, diikuti oleh persenjataan nuklir Amerika Serikat (AS). Jika digabungkan, Moskow dan Washington mengendalikan sekitar 90 persen senjata nuklir di seluruh dunia.
Baca Juga: Putin: Barat Ceroboh karena Serukan Kekalahan Rusia Pemilik Nuklir Terbesar di Dunia
Saat pasukan Moskow menyerbu Ukraina pada akhir Februari 2022, Presiden Rusia Vladimir Putin menempatkan pasukan penangkal nuklir negaranya dalam siaga tinggi.
Beberapa bulan kemudian, Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengatakan risiko konflik nuklir telah menjadi cukup besar.
Lihat Juga :