Apakah Rusia dan Korea Utara Bersahabat?

Senin, 16 September 2024 - 19:10 WIB
"Perjanjian kemitraan komprehensif yang ditandatangani hari ini menyediakan, antara lain, bantuan timbal balik jika terjadi agresi terhadap salah satu pihak dalam perjanjian ini," kata Presiden Rusia Vladimir Putin, dilansir Anadolu.

Putin mencatat bahwa AS dan negara-negara NATO lainnya mengumumkan pengiriman sistem senjata jarak jauh berpresisi tinggi, pesawat F-16 dan senjata berteknologi tinggi lainnya, peralatan ke Ukraina untuk serangan di wilayah Rusia.

"Ini bukan hanya sebuah pernyataan, ini sudah terjadi. Dan semua ini merupakan pelanggaran berat oleh negara-negara Barat ... terhadap berbagai kewajiban internasional," katanya.

Dalam keadaan seperti itu, Rusia tidak mengesampingkan pengembangan kerja sama militer-teknis dengan Republik Rakyat Demokratik Korea (DPRK), tegasnya.

Sementara itu, Kim Jong-un mengatakan perjanjian itu "bersifat cinta damai dan defensif," seraya menambahkan bahwa perjanjian itu akan mempercepat terbentuknya dunia multipolar.

"Perjanjian yang kuat ini tidak lebih dari sekadar dokumen yang benar-benar konstruktif, menjanjikan, secara eksklusif cinta damai dan defensif, yang dirancang untuk melindungi dan mempertahankan kepentingan dasar rakyat kedua negara. Saya tidak ragu bahwa (perjanjian) itu akan menjadi kekuatan pendorong untuk mempercepat terbentuknya dunia multipolar baru," tegasnya.

Pemimpin Korea Utara itu juga menggambarkan perjanjian itu sebagai dokumen penting yang akan meletakkan dasar bagi kerja sama di masa mendatang antara kedua negara, termasuk dalam bidang ekonomi, politik, dan militer.

"Kawan-kawan, waktu telah berubah. ... Hari ini, sebuah jangkar telah diangkat di tempat ini dan dimulainya hubungan sekutu antara DPRK dan Federasi Rusia telah diumumkan, yang merupakan titik balik dalam sejarah perkembangan hubungan Korea-Rusia," katanya.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!