Pembantaian Haditha, Kejahatan Perang Besar AS di Irak yang Tak Ingin Dilihat Dunia

Rabu, 28 Agustus 2024 - 18:01 WIB
Dampak dari dugaan kejahatan perang sering kali terkait langsung dengan kengerian gambar-gambar yang berakhir di tangan publik.

Penyiksaan terhadap tahanan di penjara Abu Ghraib menjadi skandal internasional ketika foto-foto grafis dipublikasikan. Pembantaian Haditha tidak memiliki momen yang serupa.

Beberapa gambar yang dibuat Korps Marinir berakhir di domain publik, tetapi sebagian besar tidak pernah dirilis.

Dalam sebuah wawancara sejarah lisan untuk Korps Marinir, pada tahun 2014, Jenderal Michael Hagee, yang merupakan komandan Korps Marinir pada saat pembantaian Haditha, membanggakan tentang merahasiakan foto-foto pembantaian tersebut.

“Pers tidak pernah mendapatkannya, tidak seperti Abu Ghraib,” kata Hagee.

Pewawancara, Fred Allison, seorang sejarawan Korps Marinir, menyela, “Foto-foto itu. Mereka mendapatkan foto-foto itu. Itulah yang membuat Abu Ghraib begitu buruk.”

“Ya,” jawab Hagee. “Dan saya belajar dari itu.” Dia berkata, “Foto-foto itu hingga kini masih belum terlihat. Jadi, saya cukup bangga akan hal itu.”

Pada tahun 2020, tim pelaporan New Yorker di podcast "In the Dark" mengajukan permintaan Undang-Undang Kebebasan Informasi kepada Angkatan Laut, untuk mendapatkan catatan yang menyertakan foto-foto tersebut. Foto-foto itu diharapkan akan membantu merekonstruksi apa yang terjadi hari itu—dan mengapa militer mencabut tuntutan pembunuhan terhadap anggota Korps Marinir yang terlibat.

Angkatan Laut tidak merilis apa pun sebagai tanggapan. New Yorker kemudian menggugat Angkatan Laut, Korps Marinir, dan Komando Pusat AS untuk memaksa mereka menyerahkan foto-foto dan catatan lain yang terkait dengan pembantaian Haditha.

New Yorker mengantisipasi bahwa pemerintah akan menegklaim bahwa rilis foto-foto itu akan merugikan anggota keluarga korban yang masih hidup. Jaksa militer telah mengajukan argumen ini setelah persidangan anggota Korps Marinir terdakwa terakhir.

Saat New Yorker berjuang dengan militer untuk mendapatkan foto-foto tersebut, seorang kolega tim media itu pergi ke Irak untuk bertemu dengan anggota keluarga korban pembantaian. Mereka menceritakan apa yang terjadi pada tanggal 19 November 2005, dan upaya mereka untuk mencari keadilan, yang semuanya gagal.

"Saya yakin ini adalah tugas kami untuk mengatakan kebenaran," kata Khalid Salman Raseef, seorang pengacara yang kehilangan 15 anggota keluarganya hari itu, yang dilansir New Yorker, Kamis (28/8/2024).
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!