Yunani-Turki Bersitegang, Menlu Jerman: Sebuah Percikan Bisa Picu Bencana
Selasa, 25 Agustus 2020 - 22:08 WIB
“Solusi yang mengikat dan damai dari pertanyaan-pertanyaan yang disengketakan di Mediterania timur pada akhirnya hanya akan mungkin melalui pembicaraan langsung antara Yunani dan Turki, sebagaimana telah disepakati sekali dan seharusnya sudah lama terjadi,” kata Maas.
“Jelas pembicaraan seperti itu hanya dapat berlangsung dan berhasil dalam lingkungan yang konstruktif, dan untuk itu semua kegiatan yang merusak harus diakhiri dan jangan ada provokasi di masa mendatang,” katanya.
Sementara, pada gilirannya, Dendias mengatakan Yunani telah membuktikannya dan selalu siap untuk dialog.
Namun, dia berkata: "Tidak bisa ada dialog di bawah ancaman, tidak bisa ada dialog di bawah provokasi dan akhirnya dialog tidak bisa dipertimbangkan, tidak hanya untuk Yunani tetapi untuk negara mana pun, ketika hak kedaulatan dan kedaulatannya dilanggar."(Baca: UEA Kirim F-16 ke Yunani di Tengah Ketegangan Athena-Ankara )
Menteri luar negeri Yunani menuduh Turki menampilkan ideologi "neo-Ottoman", merujuk pada keinginan Ankara untuk menghidupkan kembali kerajaan Turki Ottoman yang pernah menguasai sebagian besar Mediterania timur, termasuk yang sekarang disebut Yunani.
Dia bersikeras Athena akan melindungi hak kedaulatan dan kepentingannya dari tetangganya yang jauh lebih besar dan bersenjata berat.
“Jelas pembicaraan seperti itu hanya dapat berlangsung dan berhasil dalam lingkungan yang konstruktif, dan untuk itu semua kegiatan yang merusak harus diakhiri dan jangan ada provokasi di masa mendatang,” katanya.
Sementara, pada gilirannya, Dendias mengatakan Yunani telah membuktikannya dan selalu siap untuk dialog.
Namun, dia berkata: "Tidak bisa ada dialog di bawah ancaman, tidak bisa ada dialog di bawah provokasi dan akhirnya dialog tidak bisa dipertimbangkan, tidak hanya untuk Yunani tetapi untuk negara mana pun, ketika hak kedaulatan dan kedaulatannya dilanggar."(Baca: UEA Kirim F-16 ke Yunani di Tengah Ketegangan Athena-Ankara )
Menteri luar negeri Yunani menuduh Turki menampilkan ideologi "neo-Ottoman", merujuk pada keinginan Ankara untuk menghidupkan kembali kerajaan Turki Ottoman yang pernah menguasai sebagian besar Mediterania timur, termasuk yang sekarang disebut Yunani.
Dia bersikeras Athena akan melindungi hak kedaulatan dan kepentingannya dari tetangganya yang jauh lebih besar dan bersenjata berat.
Lihat Juga :