UEA Tak Terima Diancam Iran karena Normalkan Hubungan dengan Israel
Senin, 17 Agustus 2020 - 08:38 WIB
"Retorika seperti itu tidak dapat diterima dan menghasut serta memiliki implikasi serius bagi keamanan dan stabilitas di kawasan Teluk," bunyi pernyataan pemerintah UEA pada hari Minggu, seperti dilansir EurAsianTimes, Senin (17/8/2020).
Uni Emirat Arab telah menurunkan status hubungannya dengan Iran pada Januari 2016 di tengah persaingan sengit antara sekutu dekat Uni Emirat Arab; Arab Saudi dan Republik Islam Iran.
Keputusan UEA untuk menormalisasi hubungan dengan negara Yahudi itu memicu gelombang kritik di Iran. Surat kabar ultrakonservatif di negara para Mullah, Kahyan, menulis bahwa langkah tersebut membuat UEA menjadi "target yang sah" bagi pasukan pro-Teheran.
Surat kabar itu menggemakan warga Palestina dan pendukungnya di seluruh wilayah dengan menyebut perjanjian UEA dan Israel sebagai "pengkhianatan" terhadap perjuangan Palestina. (Baca juga: Israel: Bahrain dan Oman Mungkin Segera Ikuti Jejak UEA )
Pemerintah Iran juga mengutuk keras perjanjian itu, dengan menyebutnya sebagai "kebodohan strategis" dan mengatakan perjanjian itu akan "memperkuat poros perlawanan di wilayah tersebut".
Uni Emirat Arab telah menurunkan status hubungannya dengan Iran pada Januari 2016 di tengah persaingan sengit antara sekutu dekat Uni Emirat Arab; Arab Saudi dan Republik Islam Iran.
Keputusan UEA untuk menormalisasi hubungan dengan negara Yahudi itu memicu gelombang kritik di Iran. Surat kabar ultrakonservatif di negara para Mullah, Kahyan, menulis bahwa langkah tersebut membuat UEA menjadi "target yang sah" bagi pasukan pro-Teheran.
Surat kabar itu menggemakan warga Palestina dan pendukungnya di seluruh wilayah dengan menyebut perjanjian UEA dan Israel sebagai "pengkhianatan" terhadap perjuangan Palestina. (Baca juga: Israel: Bahrain dan Oman Mungkin Segera Ikuti Jejak UEA )
Pemerintah Iran juga mengutuk keras perjanjian itu, dengan menyebutnya sebagai "kebodohan strategis" dan mengatakan perjanjian itu akan "memperkuat poros perlawanan di wilayah tersebut".
Lihat Juga :