Presiden Prancis Galang Donasi untuk Lebanon
Senin, 10 Agustus 2020 - 10:14 WIB
Jerman memberikan komitmen bantuan senilai USD11,79 juta bantuan darurat yang sedang dalam proses pengiriman. AS mengirim makanan dan obat-obatan senilai 15 juta dollar AS (Rp219 miliar). Inggris telah mengeluarkan bantuan darurat senilai 5 juta poundsterling (Rp95 miliar) dan mengerahkan kapal Angkatan Laut Kerajaan ke Lebanon.
Macron sendiri menolak untuk memberikan target dana bantuan yang akan diberikan. Bantuan yang menjadi prioritas adalah rekonstruksi, bantuan makanan, peralatan medis, rumah sakit dan sekolah. Berbagai perwakilan dari Inggris, Uni Eropa, China, Rusia dan Jordania juga diperkirakan bergabung dalam konferensi pers. Iran dan Israel memilih tidak bergabung dalam acara penggalangan dana tersebut.
Sementara itu, para demonstran menyerbu gedung pemerintahan di Beirut pada Sabtu hingga kemarin. Mereka juga melempari sampah Association of Lebanese Banks. Mereka menunjukkan kekecewaan terhadap pemerintah akibat ledakan yang mematikan. Para demonstran meminta para politikus untuk mengundurkan diri dan meminta orang yang bertanggungjawab atas ledakan tersebut untuk ditangkap. (Baca: Anies Baswedan Bikin Keok Kang Emil, Ganjar, dan Khofifah)
Akibat demonstrasi itu, seorang polisi dilaporkan meninggal dunia dalam bentrokan dengan para demonstran. Palang Merah menyatakan sebanyak 117 demonstran terluka dan 55 warga dibawa ke rumah sakit. Banyak polisi dilaporkan terluka akibat lemparan batu.
Puluhan demonstran juga masuk ke gedung kementerian luar negeri dan membakar gambar Presiden Michel Aoun. “Kita akan bertahan di sini. Kita meminta semua rakyat Lebanon menduduki semua kementerian,” kata seorang demonstran, dilansir Reuters.
Sekitar 10.000 orang berkumpul di Alun-Alun Martir, sebagian demonstran bertindak anarkis. Polisi menembakkan gas air mata ketika massa mencoba mendobrak barikade untuk menghalangi pengunjuk rasa menuju gedung parlemen. Para demonstran berteriak, “rakyat ingin menjatuhkan rezim berkuasa”. Kalimat itu memang populer ketika Arab Spring merebak pada 2011. (Baca juga: AHY Posting Foto Bareng Prabowo, Netizen Sebut Pasangan Ideal 2024)
Macron sendiri menolak untuk memberikan target dana bantuan yang akan diberikan. Bantuan yang menjadi prioritas adalah rekonstruksi, bantuan makanan, peralatan medis, rumah sakit dan sekolah. Berbagai perwakilan dari Inggris, Uni Eropa, China, Rusia dan Jordania juga diperkirakan bergabung dalam konferensi pers. Iran dan Israel memilih tidak bergabung dalam acara penggalangan dana tersebut.
Sementara itu, para demonstran menyerbu gedung pemerintahan di Beirut pada Sabtu hingga kemarin. Mereka juga melempari sampah Association of Lebanese Banks. Mereka menunjukkan kekecewaan terhadap pemerintah akibat ledakan yang mematikan. Para demonstran meminta para politikus untuk mengundurkan diri dan meminta orang yang bertanggungjawab atas ledakan tersebut untuk ditangkap. (Baca: Anies Baswedan Bikin Keok Kang Emil, Ganjar, dan Khofifah)
Akibat demonstrasi itu, seorang polisi dilaporkan meninggal dunia dalam bentrokan dengan para demonstran. Palang Merah menyatakan sebanyak 117 demonstran terluka dan 55 warga dibawa ke rumah sakit. Banyak polisi dilaporkan terluka akibat lemparan batu.
Puluhan demonstran juga masuk ke gedung kementerian luar negeri dan membakar gambar Presiden Michel Aoun. “Kita akan bertahan di sini. Kita meminta semua rakyat Lebanon menduduki semua kementerian,” kata seorang demonstran, dilansir Reuters.
Sekitar 10.000 orang berkumpul di Alun-Alun Martir, sebagian demonstran bertindak anarkis. Polisi menembakkan gas air mata ketika massa mencoba mendobrak barikade untuk menghalangi pengunjuk rasa menuju gedung parlemen. Para demonstran berteriak, “rakyat ingin menjatuhkan rezim berkuasa”. Kalimat itu memang populer ketika Arab Spring merebak pada 2011. (Baca juga: AHY Posting Foto Bareng Prabowo, Netizen Sebut Pasangan Ideal 2024)
Lihat Juga :