Beban Berat Trump pada Pemilu 2020

Senin, 10 Agustus 2020 - 09:35 WIB
Mengenai perebutan suara-suara elektoral, Biden juga sangat memperhatikan peta. Dia tidak terlalu memperhatikan suara populer, sebab Hillary Clinton juga kalah dari Trump karena suara-suara elektoral. Dalam setiap kampanyenya, Biden fokus pada negara bagian tempat Hillary mengalami kekalahan. Karena dia ingin mendapatkan 270 suara-suara elektoral untuk memenangkan pemilu.

Biden juga fokus pada isu saat ini. Dia menjadikan kenormalan di AS. Dia mencoba menutupi penggambaran bahwa dirinya adalah politikus yang sudah tua, tidak bisa disentuh, dan sulit untuk berkomunikasi dengan publik. Dia juga selalu menjaga jarak dengan Barack Obama karena dia tidak ingin pemerintahannya disebut sebagai pemerintahan Obama periode ketiga. (Baca juga: Kutip hadis Nabi Muhammad, Biden Ingin Sekolah di AS Ajarkan Islam)

Presiden yang diungkapkan Allan Lichtman, pakar yang selalu tepat memprediksi pemilu AS sejak 1984, mengungkapkan kalau Trump akan kalah pada pemilu tahun ini. Lichtman memprediksi Biden akan memenangkan pemilu presiden. Sejak dia memprediksi kemenangan Ronald Reagan pada 1983 dengan penilaian 13 kunci.

Analisis Lichtman memang menganalisis bagaimana kekuatan jajak pendapat dan pergerakan negara bagian yang masih mengambang. “Pengamat jajak pendapat melihat pemilu seperti pertarungan balap kuda,” katanya.

Namun, sejarah menceritakan kepada pemilih tidak boleh dibohongi trik kampanye. “Pemilih sangat pragmatis memilih berdasarkan bagaimana partai menguasai Gedung Putih dan mengendalikan negara,” ujarnya. Dia mengatakan, jajak pendapat hanya bersifat “snapshot” pada saat ini. Dia mengungkapkan tidak ada yang mengetahui bagaimana hasil akhir pemilu presiden.

Pada 13 penilaian itu melibatkan ekonomi, petahana, kerusuhan sosial atau skandal, hingga karisma personal kandidat. “Kuncinya adalah kamu melihat gambaran besar kekuatan dan performa petahana. Jangan perhatian pada pemilu dan kampanye,” kata profesor sejarah di American University ini dilansir The New York Times.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!