Komandan Tank Tempur Israel Ini Dihabisi Sniper Hamas di Gaza
Senin, 13 November 2023 - 10:40 WIB
“Saya meneleponnya untuk memeriksa apakah masih berlangsung tetapi dia mengatakan kepada saya bahwa dia harus segera kembali ke markasnya. Ketika saya bertanya alasannya, dia hanya menyuruh saya menyalakan TV,” paparnya, yang dilansir Senin (13/11/2023).
Sementara Emad, seperti kebanyakan orang Israel lainnya, masih berusaha mencari tahu apa yang terjadi di Israel selatan, di sepanjang perbatasan dengan Jalur Gaza, putranya—yang sudah menjadi komandan IDF—melaju ke markasnya di gurun Negev untuk mengambil tank-nya.
“Dia entah bagaimana memahami apa yang sedang terjadi dan meskipun dia tidak menerima perintah dari komandannya, dia memutuskan untuk membawa tanknya dan pergi berperang,” kata Emad (60), menggambarkan Habaka, ayah satu anak, sebagai orang yang rendah hati dan selalu melakukan apapun yang dia bisa untuk membantu orang lain.
Menurut penuturan Habaka sebelum terbunuh, setelah serangan Hamas sepanjang hari di Israel selatan, yang menewaskan sekitar 1.200 orang dan ratusan lainnya disandera, dia bergegas dari rumahnya untuk bergabung dengan perang Israel.
“Saya berkendara dari Galilea ke sebuah pangkalan dekat Tze’elim untuk mendapatkan tank tersebut dan menjangkau masyarakat secepat mungkin untuk menyelamatkan setiap jiwa yang saya bisa,” kenangnya kepada media Israel.
Sesampainya di Kibbutz Be’eri—salah satu komunitas yang paling parah terkena dampak serangan Hamas—Habaka mengatakan dia bergabung dengan tentara lain yang bertempur di sana.
“Saya melihat Kolonel Barak Hiram dan hal pertama yang dia perintahkan kepada saya adalah menembakkan tank ke dalam rumah,” kata Habaka kepada media Israel.
“Pertanyaan pertama yang Anda ajukan pada diri sendiri adalah apakah ada sandera sipil di dalam rumah tersebut. Kami melakukan semua tindakan awal sebelum memutuskan untuk menembak ke dalam rumah tersebut, namun begitu kami menembak ke dalam rumah itu, kami dapat berpindah dari rumah ke rumah dan membebaskan para sandera. Pertempuran berlanjut hingga malam hari, di jalan-jalan kibbutz."
Sementara Emad, seperti kebanyakan orang Israel lainnya, masih berusaha mencari tahu apa yang terjadi di Israel selatan, di sepanjang perbatasan dengan Jalur Gaza, putranya—yang sudah menjadi komandan IDF—melaju ke markasnya di gurun Negev untuk mengambil tank-nya.
“Dia entah bagaimana memahami apa yang sedang terjadi dan meskipun dia tidak menerima perintah dari komandannya, dia memutuskan untuk membawa tanknya dan pergi berperang,” kata Emad (60), menggambarkan Habaka, ayah satu anak, sebagai orang yang rendah hati dan selalu melakukan apapun yang dia bisa untuk membantu orang lain.
Menurut penuturan Habaka sebelum terbunuh, setelah serangan Hamas sepanjang hari di Israel selatan, yang menewaskan sekitar 1.200 orang dan ratusan lainnya disandera, dia bergegas dari rumahnya untuk bergabung dengan perang Israel.
“Saya berkendara dari Galilea ke sebuah pangkalan dekat Tze’elim untuk mendapatkan tank tersebut dan menjangkau masyarakat secepat mungkin untuk menyelamatkan setiap jiwa yang saya bisa,” kenangnya kepada media Israel.
Sesampainya di Kibbutz Be’eri—salah satu komunitas yang paling parah terkena dampak serangan Hamas—Habaka mengatakan dia bergabung dengan tentara lain yang bertempur di sana.
“Saya melihat Kolonel Barak Hiram dan hal pertama yang dia perintahkan kepada saya adalah menembakkan tank ke dalam rumah,” kata Habaka kepada media Israel.
“Pertanyaan pertama yang Anda ajukan pada diri sendiri adalah apakah ada sandera sipil di dalam rumah tersebut. Kami melakukan semua tindakan awal sebelum memutuskan untuk menembak ke dalam rumah tersebut, namun begitu kami menembak ke dalam rumah itu, kami dapat berpindah dari rumah ke rumah dan membebaskan para sandera. Pertempuran berlanjut hingga malam hari, di jalan-jalan kibbutz."
Lihat Juga :