10 Negara yang Dulunya Miskin Sekarang Kaya Raya

Selasa, 23 Mei 2023 - 12:18 WIB
Saat ini, PDB per kapita Norwegia mencapai USD89.242 dan salah satu tertinggi di dunia. Negara itu memiliki dana minyak sekitar USD250.00 yang dibagikan per warga Norwegia. Itu menjadi salah negara dengan standar paling tinggi versi Human Development PBB selama 16 tahun berturut-turut.

4. Brunei

PDB per kapita Brunei mencapai USD31.449. Sebelum ditemukannya cadangan minyak pada 1929, Brunei merupakan negara jajahan Inggris dengan tingkat kemiskinan yang sangat tinggi. Dulu, Brunei sangat bergantung pada ekspor sagu dan karet.

Ketika Great Depression dan Perang Dunia II yang mendorong pertumbuhan industri minyak, Brunei menjadi negara kaya pada 1930-1940 karena mengekspor emas hitam. Dari keuntungan minyak tersebut, Sultan ke-28 Omar Ali Saifuddien III yang berkuasa pada 1950-an dan 1960-an, melakukan reformasi infrastruktur dan menciptakan sistem pendidikan yang maju serta meningkatkan fasilitas kesehatan publik.

Cadangan gas alam yang ditemukan pada 1960-an dan awal 1970-an juga membuat ekonomi Brunei kembali terangka dan meningkatkan standar kehidupan rakyat sama seperti orang Eropa dan Amerika Utara. Sejak Brunei merdeka dari Inggris pada 1984, harga minyak sangat menentukan pertumbuhan ekonomi.

5. Korea Selatan

Waktu memang terus bergulir. Saat pecah perang Korea pada 1950-an, Korea harus bertekuk lutut kepada Jepang selama beberapa dekade. Industriliasasi di utara menjadikan wilayah tersebut lebih kaya dibandingkan selatan yang mengandalkan pertanian.

Ketika perang berakhir pada 1953, Korea Selatan masih terjebak pada kudeta pada 1961 dipimpin junta militer Jenderal Park Chung-hee. Saat itu, rezim junta dikritik karena mengekang kebebasan sipil, tetapi efektif dalam memodernisasi ekonomi Korea Selatan.

Rencana Lima Tahunan diimplementasikan pada 1962 dan meningkatkan industrilisasi dengan 'the Miracle on the Han River' setelah 'the Miracle on the Rhine' untuk menggambarkan pemulihan ekonomi pasca-perang.

Keluarga konglomerat Korea Selatan seperti Samsung dan LG mendapatkan pinjaman besar dari sektor perbankan dan mendapatkan perlakuan istimewa dari pemerintah. Konglomerasi dan ekonomi Korea Selatan mengalami pertumbuhan pesat sepanjang 1960-an.

Industri elektronik dan baja terus berkembang pada 1970-an dan mencapai pertumbuhan hingga 7,8%. Ketika kekuasaan militer berakhir pada 1993, Korea Selatan menjadi negara maju. Kini pendapatan per kapitanya mencapai USD34.940 dan lebih tinggi dibandingkan Portugal, Israel, Kuwait dan Spanyol.

Baca Juga: 6 Kebijakan Unik India dalam Mempopulerkan Program Keluarga Berencana

6. Spanyol

Spanyol dulunya merupakan negara agraris miskin. Negara itu pernah mengalami kehancuran akibat perang saudara pada 1930-an. Itu mengakibatkan kediktatoran represif yang melumpuhkan ekonomi selama beberapa dekade, dengan situasi keuangan buruk sepanjang 1940-an dan 1950-an.

Pemerintah fasis Jenderal Francisco Franco hanya fokus pada swasembada ekonomi selama beberapa dekade sehingga menutup Spanyol dari dunia luar dan membatasi impor. Kebijakan ini menyebabkan pertumbuhan mencapai ilai negatif, mata uang terdevaluasi, dan kekurangan barang-barang penting yang parah.

Ketika Eropa Barat menjadi lebih kaya, Spanyol justru mengalami kemunduran. Pada 1959, Franco mengubah taktik dan mengganti menteri tua dalam pemerintahannya dengan menteri yang lebih muda dan liberal secara ekonomi. Dia memprakarsai rencana pembangunan Spanyol dalam bidang ekonomi.

Selama1960-an, Spanyol mengalami industrialisasi besar-besaran dan membuka diri terhadap dunia luar. Sejumlah besar pabrik dibangun di seluruh negeri dan pariwisata berkembang pesat. PDB per kapita, yang hanya USD7.359 pada 1960, meningkat lebih dari dua kali lipat pada saat pemerintahan fasis berakhir pada tahun 1975. Saat ini, menjadi USD30.058.

Sejak 1975, Spanyol telah beralih ke demokrasi modern yang makmur. Negara ini bergabung dengan Uni Eropa pada 1986 dan tahun-tahun pertumbuhan dan standar hidup yang meningkat.

Perekonomian terpukul selama Resesi Besar Spanyol tahun 2008 hingga 2013, tetapi sekarang sedang menuju pemulihan, negara tersebut mungkin lebih terlindungi dari krisis keuangan yang sedang berlangsung yang disebabkan oleh perang Rusia di Ukraina daripada Uni Eropa lainnya. negara. Ini sebagian karena kurang bergantung pada energi Rusia dan telah mengalami ledakan besar dalam pendapatan pariwisata sejak pembatasan COVID-19 dilonggarkan.

7. Singapura



Foto/Reuters

Saat Singapura memperoleh kemerdekaan dari Malaysia pada 1965, negara kota kecil itu mengalami krisis kemiskinan dan pengangguran yang tinggi. Sepertiga dari populasi tinggal di daerah kumuh , hingga separuh penduduk negara baru itu buta huruf, dan PDB per kapita hanya USD516.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!