Jenderal AS: Dalam Perang Ukraina, Pertahanan Udara Canggih Bikin Jet Tempur Jadi Tak Berharga
Kamis, 09 Maret 2023 - 17:49 WIB
"Dan itulah mengapa mereka [jet tempur kedua negara] tidak terbang di banyak wilayah," ujarnya.
Ketidakmampuan Rusia untuk mengendalikan wilayah udara Ukraina merupakan kejutan awal dari invasi yang secara umum terus berlanjut sejak saat itu.
Dengan demikian, militer kedua negara harus menyesuaikan taktik mereka untuk misi dukungan udara jarak dekat, lebih mengandalkan taktik respons seperti roket yang diluncurkan HIMARS untuk menyerang sasaran darat.
Menurut Jenderal Hecker, pesawat, sementara itu, sebagian besar harus mundur di luar jangkauan sistem pertahanan udara dan menggunakan senjata jarak jauh.
“Masalahnya adalah keberhasilan Rusia dan Ukraina dalam pertahanan udara dan rudal terintegrasi membuat banyak dari pesawat itu tidak berharga karena mereka tidak dapat pergi dan melakukan dukungan udara jarak dekat,” katanya.
Pertahanan udara Ukraina terdiri dari "gado-gado" senjata era Soviet dan sistem Barat yang lebih modern yang dipasok oleh negara-negara seperti AS, Jerman, dan Inggris, dengan masing-masing membutuhkan pelatihan khusus mereka sendiri.
Ketidakmampuan Rusia untuk mengendalikan wilayah udara Ukraina merupakan kejutan awal dari invasi yang secara umum terus berlanjut sejak saat itu.
Dengan demikian, militer kedua negara harus menyesuaikan taktik mereka untuk misi dukungan udara jarak dekat, lebih mengandalkan taktik respons seperti roket yang diluncurkan HIMARS untuk menyerang sasaran darat.
Menurut Jenderal Hecker, pesawat, sementara itu, sebagian besar harus mundur di luar jangkauan sistem pertahanan udara dan menggunakan senjata jarak jauh.
“Masalahnya adalah keberhasilan Rusia dan Ukraina dalam pertahanan udara dan rudal terintegrasi membuat banyak dari pesawat itu tidak berharga karena mereka tidak dapat pergi dan melakukan dukungan udara jarak dekat,” katanya.
Pertahanan udara Ukraina terdiri dari "gado-gado" senjata era Soviet dan sistem Barat yang lebih modern yang dipasok oleh negara-negara seperti AS, Jerman, dan Inggris, dengan masing-masing membutuhkan pelatihan khusus mereka sendiri.
Lihat Juga :