Vladimir Putin: Rusia Harus Perhitungkan Senjata Nuklir NATO

Senin, 27 Februari 2023 - 07:18 WIB
Ketika bantuan militer Barat mengalir ke negara yang diinvasi, pemimpin Rusia dan menteri luar negerinya menggambarkan perang itu sebagai pertarungan de facto antara Rusia dengan bukan hanya Ukraina tetapi juga NATO.

Sekutu Barat-nya Ukraina telah menekankan bahwa mereka ingin menghindari menjadi pihak yang berperang langsung dalam perang tersebut sambil memperlengkapi Kiev untuk mempertahankan diri dan merebut kembali wilayah yang direbut Rusia.

New START adalah satu-satunya perjanjian pengurangan senjata nuklir yang tersisa antara Moskow dan Washington. Dalam menangguhkan partisipasi negaranya, Putin mengatakan Rusia tidak dapat menerima inspeksi AS atas situs nuklirnya di bawah pakta tersebut sementara Washington dan sekutu NATO mencari kekalahan Rusia di Ukraina.

Presiden Rusia menekankan bahwa Moskow tidak menarik diri dari pakta tersebut, dan Kementerian Luar Negeri Rusia mengatakan negaranya akan menghormati batas perjanjian tentang senjata nuklir dan terus memberi tahu AS tentang peluncuran uji coba rudal balistik.

Baca juga: Pakar Militer: Rudal Nuklir Sarmat Rusia Ancaman bagi Yellowstone yang Ditakuti AS

Dalam wawancara dengan Russia 1, Putin mengatakan bahwa meskipun negara-negara NATO bukan pihak dalam Perjanjian New START, mereka terlibat dalam "diskusi tentang masalah ini".

Putin menuduh Barat ingin melenyapkan Rusia, gagasan yang telah berulang kali ia gunakan untuk membenarkan agresi Rusia di Ukraina.

“Mereka memiliki satu tujuan: membubarkan bekas Uni Soviet dan bagian fundamentalnya—Federasi Rusia,” kata Putin.

Menarik sentimen nasionalis warga negaranya, Putin meramalkan bahwa jika Barat berhasil menghancurkan Rusia dan membangun kendali, etnis Rusia mungkin tidak akan bertahan sebagai bangsa yang berbeda.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!