Jadi Saksi Eksekusi Amrozi, Romo Carolus Bicara Bali Nine

Kamis, 19 Februari 2015 - 18:25 WIB
Jadi Saksi Eksekusi...
Jadi Saksi Eksekusi Amrozi, Romo Carolus Bicara Bali Nine
A A A
CILACAP - Pastor Charles Patrick Edward Burrows atau dikenal sebagai Romo Carolus angkat bicara soal duo Bali Nine asal Australia yang akan dieksekusi di Indonesia. Romo Carolus yang jadi saksi eksekusi Amrozi itu menyebut menunggu waktu untuk dieksekusi adalah penyiksaan.

Tujuh tahun lalu, pendeta kelahiran Irlandia yang sudah jadi warga negara Indonesia sejak 1983 itu menyaksikan eksekusi dua penyelundup heroin asal Nigeria di Nusakambangan. Nusakambangan disebut-sebut juga akan jadi lokasi eksekusi duo Bali Nine, Andrew Chan dan Myuran Sukumaran.

Kala itu, kata Romo Carolus, butuh waktu hingga delapan menit bagi gembong narkoba asal Nigeria untuk mati setelah tubuhnya ditembus peluru regu tembak Indonesia. ”Ketika mereka mengerang kesakitan, saya mencoba menyanyikan,” kata pastor peraih Penghargaan Maarif tahun 2013 itu.

Kematian itu menghantui mereka seperti akumulasi penentangan terhadap hukuman mati yang mengkristal. Romo Carolus juga pernah memberikan bukti ketika pengacara terpidana “Bom Bali” mengajukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi terkait pelaksanaan eksekusi yang dianggap menyiksa.

”Tim hukum Amrozi meminta saya untuk menjadi saksi faktual, bahwa orang yang tewas oleh regu tembak adalah penyiksaan. Ada delapan hakim di Mahkamah Konstitusi. Tujuh setuju bahwa itu penyiksaan dan satu orang tidak setuju,” ujar Romo Carolus, seperti dilansir Sydney Morning Herald, Kamis (19/2/2015).

Dia percaya bahwa hidup dengan ancaman eksekusi telah membuat tahanan menjadi gila. Dia baru-baru ini meminta psikiater untuk mengetes gembong kokain asal Brasil, Rodrigo Gularte, yang kemungkinan akan dieksekusi bersama duo Bali Nine asal Australia. Menurutnya, pria Brasil itu menderita sakit mental.

”Fakta bahwa orang ini ‘gila’ adalah bukti bahwa mereka sedang disiksa untuk menunggu (eksekusi),” ujarnya. Dia kini menggalang dukungan untuk menentang hukuman mati."Kita harus memiliki pengacara terkenal dan cerdas yang mungkin mengambil kasus,” ujarnya.
(mas)
Berita Terkait
Kunjungan Danielle Wood...
Kunjungan Danielle Wood Perkuat Kerja Sama Ekonomi Indonesia–Australia
Cendekiawan Muda RI...
Cendekiawan Muda RI di Australia Sumbang Ide Wujudkan Indonesia 4.0
Kerjasama dengan UNICEF,...
Kerjasama dengan UNICEF, Australia Bantu Penanganan Covid-19 Indonesia
KJRI Melbourne Benarkan...
KJRI Melbourne Benarkan Ada WNI yang Ditangkap Karena Ngutil Tas Mewah
Wasit Yordania Adham...
Wasit Yordania Adham Makhadmeh Pimpin Laga Timnas Indonesia vs Australia
Peringkat Timnas Indonesia...
Peringkat Timnas Indonesia Terpaut Jauh dari Australia, Shin Tae-yong: Kami Tidak Gentar
Berita Terkini
3 Tentara AS Tewas Diserang...
3 Tentara AS Tewas Diserang Rudal Iran, Trump Salahkan Yordania
15 menit yang lalu
Iran Berhasil Serang...
Iran Berhasil Serang Situs CIA, Amerika Curiga Rusia Terlibat
40 menit yang lalu
Jika Arab Saudi Punya...
Jika Arab Saudi Punya Senjata Nuklir, Kenapa Banyak Negara Khawatir?
2 jam yang lalu
4 Fakta Gunung Pickaxe,...
4 Fakta Gunung Pickaxe, Fasilitas Rahasia Nuklir Iran yang Jadi Target Serangan AS
2 jam yang lalu
Siapa Khalil al-Hayya?...
Siapa Khalil al-Hayya? Pemimpin Baru Hamas yang Dikenal sebagai Tangan Kanan Iran di Gaza
4 jam yang lalu
Presiden Zelensky Akan...
Presiden Zelensky Akan Memiliki Pesaing Politik yang Kuat, Ini 5 Pemicunya
6 jam yang lalu
Infografis
True Promise 4 Mengamuk!...
True Promise 4 Mengamuk! Pangkalan Militer AS di Timur Tengah Jadi Rongsokan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved