Sakit Perut, Pelaku Nyaris Batal Serang Charlie Hebdo
Kamis, 19 Februari 2015 - 13:52 WIB
Sakit Perut, Pelaku Nyaris Batal Serang Charlie Hebdo
A
A
A
PARIS - Tragedi pembantaian belasan orang di kantor majalah satire Prancis, Charlie Hebdo,nyaris dibatalkan karena salah satu pelaku sakit perut. Demikian laporan polisi Prancis.
“Pelaku pembunuhan Said Kouachi menderita sakit perut yang membuatnya tidur sepanjang hari sebelum penembakan,” bunyi bocoran laporan polisi Prancis, yang dilansir Mail Online, semalam (18/2/2015).
Said dan saudaranya, Cherif Kouachi, pada 7 Januari 2015 menyerang kantor majalah Charlie Hebdo di Paris. Mereka membunuh 12 orang, termasuk para wartawan, kartunis dan polisi. Keduanya tewas ditembak mati polisi Prancis setelah memburunya di sebuah gudang percetakan tak jauh dari Paris.
Saat menyerang, salah satu pelaku menyatakan, bahwa mereka dendam atas penerbitan kartun Nabi Muhammad oleh majalah satire itu.
Hasil penyelidikan polisi Prancis juga menyatakan, bahwa pada malam sebelum serangan, Cherif Kouachi bertemu dengan seorang pria bersenjata yang diduga sebagai pelaku serangan lain di Paris. Selain di kantor majalah Charlie Hebdo, sebuah penyaderaan saat itu juga terjadi di sebuah supermarket Yahudi yang dilakukan Amedy Coulibaly.
Coulibaly juga ditembak mati aparat Prancis setelah membunuh empat sandera. Jumlah total korban dalam serangan di Paris mencapai 17 orang. Pertemuan Cherif Kouachi dengan Amedy Coulibaly 10 jam sebelum serangan juga terungkap dari catatan telepon keduanya.
“Pelaku pembunuhan Said Kouachi menderita sakit perut yang membuatnya tidur sepanjang hari sebelum penembakan,” bunyi bocoran laporan polisi Prancis, yang dilansir Mail Online, semalam (18/2/2015).
Said dan saudaranya, Cherif Kouachi, pada 7 Januari 2015 menyerang kantor majalah Charlie Hebdo di Paris. Mereka membunuh 12 orang, termasuk para wartawan, kartunis dan polisi. Keduanya tewas ditembak mati polisi Prancis setelah memburunya di sebuah gudang percetakan tak jauh dari Paris.
Saat menyerang, salah satu pelaku menyatakan, bahwa mereka dendam atas penerbitan kartun Nabi Muhammad oleh majalah satire itu.
Hasil penyelidikan polisi Prancis juga menyatakan, bahwa pada malam sebelum serangan, Cherif Kouachi bertemu dengan seorang pria bersenjata yang diduga sebagai pelaku serangan lain di Paris. Selain di kantor majalah Charlie Hebdo, sebuah penyaderaan saat itu juga terjadi di sebuah supermarket Yahudi yang dilakukan Amedy Coulibaly.
Coulibaly juga ditembak mati aparat Prancis setelah membunuh empat sandera. Jumlah total korban dalam serangan di Paris mencapai 17 orang. Pertemuan Cherif Kouachi dengan Amedy Coulibaly 10 jam sebelum serangan juga terungkap dari catatan telepon keduanya.
(mas)