Siap Aksi di Irak, Obama Kerahkan 300 Penasihat Militer
Jum'at, 20 Juni 2014 - 08:27 WIB
Siap Aksi di Irak, Obama Kerahkan 300 Penasihat Militer
A
A
A
WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat (AS), Barack Obama, mengatakan AS siap untuk mengambil tindakan militer terhadap militan yang memerangi pemerintah Irak. Obama bahkan mengirim 300 penasihat militer untuk memastikan situasi terkini di Irak guna mengambil tindakan.
”Ke depan, kita akan siap untuk mengambil sasaran dan tindakan militer yang tepat, jika diperlukan. Kita akan memastikan bahwa situasi di lapangan memerlukan itu (tindakan militer),” kata Obama di Gedung Putih usai bertemu dengan Tim Keamanan Nasional AS.
Sedangkan 300 penasihat militer yang dikirim ke Irak, kata Obama, akan mempelajari situasi dan merumuskan cara untuk melatih dan mempersenjatai pasukan Irak. Mereka juga melatih intelijen Irak untuk meningkatkan pengawasan.
”Kami siap untuk mengirim sebagian kecil penasihat militer AS, hingga 300 personel. Untuk merumuskan bagaimana kita dapat melatih dan mendukung pasukan Irak untuk beraksi,” ujar Obama, seperti dikutip Reuters, Jumat (20/6/2014).
Menurut Obama, investigasi yang baik akan menentukan sikap AS untuk ikut campur masalah di Irak. Tanpa hal itu, kelompok militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) bisa menjadi ancaman bagi negara-negara Barat.
Kendati demikian, Obama kembali menegaskan bahwa AS tidak akan berperang lagi di Irak, setelah pasukan terakhir di Irak sudah pulang ke AS. AS kini telah membentuk pusat operasi bersama di Baghdad dan Irak utara.
Sebelum mengirim 300 penasihat militer ke Irak, Angkatan Udara AS telah menerbangkan pesawat tempur F-18 untuk memantau gerakan para militan.
Terkait masa depan Perdana Menteri Irak Nuri al-Maliki, Obama mengataka, pemimpin Irak semestinya inklusif. ”Syiah, Sunni, Kurdi di Irak semua harus memiliki keyakinan bahwa mereka dapat memajukan kepentingan dan aspirasi mereka melalui proses politik bukan melalui kekerasan,” ucap Obama.
”Ke depan, kita akan siap untuk mengambil sasaran dan tindakan militer yang tepat, jika diperlukan. Kita akan memastikan bahwa situasi di lapangan memerlukan itu (tindakan militer),” kata Obama di Gedung Putih usai bertemu dengan Tim Keamanan Nasional AS.
Sedangkan 300 penasihat militer yang dikirim ke Irak, kata Obama, akan mempelajari situasi dan merumuskan cara untuk melatih dan mempersenjatai pasukan Irak. Mereka juga melatih intelijen Irak untuk meningkatkan pengawasan.
”Kami siap untuk mengirim sebagian kecil penasihat militer AS, hingga 300 personel. Untuk merumuskan bagaimana kita dapat melatih dan mendukung pasukan Irak untuk beraksi,” ujar Obama, seperti dikutip Reuters, Jumat (20/6/2014).
Menurut Obama, investigasi yang baik akan menentukan sikap AS untuk ikut campur masalah di Irak. Tanpa hal itu, kelompok militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) bisa menjadi ancaman bagi negara-negara Barat.
Kendati demikian, Obama kembali menegaskan bahwa AS tidak akan berperang lagi di Irak, setelah pasukan terakhir di Irak sudah pulang ke AS. AS kini telah membentuk pusat operasi bersama di Baghdad dan Irak utara.
Sebelum mengirim 300 penasihat militer ke Irak, Angkatan Udara AS telah menerbangkan pesawat tempur F-18 untuk memantau gerakan para militan.
Terkait masa depan Perdana Menteri Irak Nuri al-Maliki, Obama mengataka, pemimpin Irak semestinya inklusif. ”Syiah, Sunni, Kurdi di Irak semua harus memiliki keyakinan bahwa mereka dapat memajukan kepentingan dan aspirasi mereka melalui proses politik bukan melalui kekerasan,” ucap Obama.
(mas)