Rusia tak gegabah untuk caplok Donetsk dari Ukraina
Selasa, 13 Mei 2014 - 08:30 WIB
Rusia tak gegabah untuk caplok Donetsk dari Ukraina
A
A
A
Sindonews.com – Pemerintah Rusia kali ini tidak gegabah untuk menganeksasi (mencaplok) wilayah Donetsk yang baru saja menggelar referendum untuk pisah dari Ukraina. Sikap Rusia kali ini berbeda dengan sebelumnya yang begitu cepat menerima Crimea setelah lepas dari Ukraina.
Dmitry Peskov, juru bicara Presiden Rusia, Vladimir Putin, mengatakan, hingga kini Putin belum merespon permintaan para wakil separatis Donetsk pro-Moskow yang ingin bergabung ke Rusia. Dia bahkan menyatakan, keputusan Putin kali ini sulit untuk ditebak. (Baca: Putin rumuskan sikap soal referendum Ukraina timur)
Putin, ujar Peskov, tetap konsisten menyerukan dialog antara kubu Kiev, Ukraina dengan kubu separatis Donestk dan Luhansk yang sudah memilih pisah atau merdeka dari Ukraina.”Moskow menghormati kehendak rakyat Donetsk dan Luhansk,” kata Peskov.
”(Namun) perlu ditekankan (Moskow) tetap ingin terjadi dialog antara wakil dari Kiev dan wakil dari Donetsk dan Luhansk,” lanjut dia, semalam (12/5/2014), seperti dilansir Russia Today. (Baca juga: Paska lepas dari Ukraina, Luhansk pertimbangkan gabung Rusia)
Sikap Rusia yang kali ini berbeda dari sebelumnya memicu spekulasi para ahli hukum internasional. Alexander Mercouris, ahli hukum internasional terkemuka mengatakan, reaksi Moskow kali ini konsisten dengan kebijakan Putin terhadap Ukraina yang sudah disampaikan sebelumnya.
”Moskow mengikuti apa yang telah menjadi kebijakan yang konsisten sejak awal, langsung dari saat saat kudeta berlangsung di Kiev pada bulan Februari 2014, yang telah mendesak untuk negosiasi antara Kiev dan perwakilan demokrasi sejati dari wilayah timur untuk mencapai perubahan konstitusi,” katanya.
“Saya tidak berpikir posisi Moskow telah berubah. Tapi saya pikir posisi Moskow mungkin berubah di masa depan,” lanjut Mercouris.
Pakar hubungan internasional dari Moscow State University, Mark Sleboda, meyakini, reaksi Moskow kali ini berubah dari sebelumnya.”Reaksi Moskow untuk referendum (di Ukraina timur), di mana Putin merekomendasikan untuk ditunda, sebenarnya reaksi yang agak hangat,” katanya.
Dmitry Peskov, juru bicara Presiden Rusia, Vladimir Putin, mengatakan, hingga kini Putin belum merespon permintaan para wakil separatis Donetsk pro-Moskow yang ingin bergabung ke Rusia. Dia bahkan menyatakan, keputusan Putin kali ini sulit untuk ditebak. (Baca: Putin rumuskan sikap soal referendum Ukraina timur)
Putin, ujar Peskov, tetap konsisten menyerukan dialog antara kubu Kiev, Ukraina dengan kubu separatis Donestk dan Luhansk yang sudah memilih pisah atau merdeka dari Ukraina.”Moskow menghormati kehendak rakyat Donetsk dan Luhansk,” kata Peskov.
”(Namun) perlu ditekankan (Moskow) tetap ingin terjadi dialog antara wakil dari Kiev dan wakil dari Donetsk dan Luhansk,” lanjut dia, semalam (12/5/2014), seperti dilansir Russia Today. (Baca juga: Paska lepas dari Ukraina, Luhansk pertimbangkan gabung Rusia)
Sikap Rusia yang kali ini berbeda dari sebelumnya memicu spekulasi para ahli hukum internasional. Alexander Mercouris, ahli hukum internasional terkemuka mengatakan, reaksi Moskow kali ini konsisten dengan kebijakan Putin terhadap Ukraina yang sudah disampaikan sebelumnya.
”Moskow mengikuti apa yang telah menjadi kebijakan yang konsisten sejak awal, langsung dari saat saat kudeta berlangsung di Kiev pada bulan Februari 2014, yang telah mendesak untuk negosiasi antara Kiev dan perwakilan demokrasi sejati dari wilayah timur untuk mencapai perubahan konstitusi,” katanya.
“Saya tidak berpikir posisi Moskow telah berubah. Tapi saya pikir posisi Moskow mungkin berubah di masa depan,” lanjut Mercouris.
Pakar hubungan internasional dari Moscow State University, Mark Sleboda, meyakini, reaksi Moskow kali ini berubah dari sebelumnya.”Reaksi Moskow untuk referendum (di Ukraina timur), di mana Putin merekomendasikan untuk ditunda, sebenarnya reaksi yang agak hangat,” katanya.
(mas)