Soal pembantaian massal, China & Jepang bersitegang
Senin, 31 Maret 2014 - 17:29 WIB
Soal pembantaian massal, China & Jepang bersitegang
A
A
A
Sindonews.com – China dan Jepang kembali bersitegang. Kali ini pemicunya adalah pidato Presiden China, Xi Jinping di Jerman yang membahas pembantaian militer Jepang terhadap 300.000 warga Nanjing, China tahun 1937.
Pemerintah Jepang mengajukan protes atas pidato Xi yang berlangsung di Jerman, Jumat pekan lalu. Dalam pidatonya, Xi menyatakan, China konsisten untuk mengingatkan pembantaian rakyat China oleh tentara Jepang yang melakukan invasi puluhan tahun silam.
Beberapa politisi Jepang konservatif menyangkal soal pembantaian itu.Namun, Kepala Sekretaris Kabinet Jepang, Yoshihide Suga mengatakan, Jepang tidak menyangkalnya. Hanya saja data jumlah korban berbeda-beda dan tidak jelas.
Jepang memprotes pidato Presiden Xi, sebab hal itu dianggap tidak pantas diumbar di negara ketiga, yakni Jerman. Namun, juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Hong Lei, mengatakan Jepang berada di posisi yang salah, karena berani memprotes pidato Xi.
”Kejahatan dari militeris Jepang dalam menginvasi China, termasuk Nanjing adalah fakta sejarah yang tidak bisa dipungkiri,” kata Hong, seperti dikutip Reuters, Senin (31/3/2014).
“Baru-baru ini, telah terjadi tren di Jepang untuk mempercantik diri dan menyangkal sejarah agresi, yang telah menarik perhatian besar, dan menyebabkan alarm internasional antara mereka yang cinta damai,” lanjut Hong.
Dalam pidatonya itu, Presiden Xi memuji pengusaha Jerman John Rabe, karena jasanya dalam melindungi rakyat China dari amukan tentara Jepang di Nanjing kala itu. Ketegangan ini memperkeruh suasana, di mana Jepang dan China juga bersitegang dalam sengketa wilayah Laut China Timur.
Pemerintah Jepang mengajukan protes atas pidato Xi yang berlangsung di Jerman, Jumat pekan lalu. Dalam pidatonya, Xi menyatakan, China konsisten untuk mengingatkan pembantaian rakyat China oleh tentara Jepang yang melakukan invasi puluhan tahun silam.
Beberapa politisi Jepang konservatif menyangkal soal pembantaian itu.Namun, Kepala Sekretaris Kabinet Jepang, Yoshihide Suga mengatakan, Jepang tidak menyangkalnya. Hanya saja data jumlah korban berbeda-beda dan tidak jelas.
Jepang memprotes pidato Presiden Xi, sebab hal itu dianggap tidak pantas diumbar di negara ketiga, yakni Jerman. Namun, juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Hong Lei, mengatakan Jepang berada di posisi yang salah, karena berani memprotes pidato Xi.
”Kejahatan dari militeris Jepang dalam menginvasi China, termasuk Nanjing adalah fakta sejarah yang tidak bisa dipungkiri,” kata Hong, seperti dikutip Reuters, Senin (31/3/2014).
“Baru-baru ini, telah terjadi tren di Jepang untuk mempercantik diri dan menyangkal sejarah agresi, yang telah menarik perhatian besar, dan menyebabkan alarm internasional antara mereka yang cinta damai,” lanjut Hong.
Dalam pidatonya itu, Presiden Xi memuji pengusaha Jerman John Rabe, karena jasanya dalam melindungi rakyat China dari amukan tentara Jepang di Nanjing kala itu. Ketegangan ini memperkeruh suasana, di mana Jepang dan China juga bersitegang dalam sengketa wilayah Laut China Timur.
(mas)