Terancam hukuman mati, Musharraf mengaku tak salah
Senin, 31 Maret 2014 - 14:32 WIB
Terancam hukuman mati, Musharraf mengaku tak salah
A
A
A
Sindonews.com - Mantan Presiden Pakistan, Pervez Musharraf, pada Senin (31/3/2014) mengaku tidak bersalah atas lima tuduhan pengkhianatan. Jika lima tuduhan itu terbukti benar, Musharraf terancam hukuman mati.
Pengakuan Musharraf tersebut muncul saat dia dihadirkan di pengadilan. Tahun 2007, Musharraf mengubah konstitusi dan menerapkan status darutat untuk mencoba memperpanjang masa kekuasaannya sebagai presiden.
Hakim Faisal Arab, yang memimpin panel khusus dari tiga hakim, menolak pembelaan dari Musharraf. Keputusan hakim itu membuat Musharraf bereaksi. Dia langsung berdiri tegak dan mengucapkan; ”(Saya) tidak bersalah atas tuduhan masing-masing.”
”Saya ingin bertanya, di mana keadilan bagi saya di Republik Islam Pakistan. Saya hanya mengabdikan kepada negara ini, dan tidak mengambil apa-apa,” kata Musharraf, seperti dikutip Reuters. ”Saya lebih baik mati untuk menyerah.”
Musharraf diadili setelah Pakistan dipimpin Perdana Menteri Nawaz Sharif, yang dikenal sebagai pemimpin dari kalangan sipil. Beberapa pengamat khawatir, persidangan terhadap Musharraf bisa memicu kemarahan tentara.
Musharraf mengatakan kepada wartawan, bahwa seluruh tentara Pakistan mendukungnya, meski secara institusi militer Pakistan netral dalam setiap kasus di persidangan.
Usai persidangan, pengacara minta izin kepada pengadilan, agar kliennya diberikan kesempatan untuk mengunjungi ibunya yang sakit di Dubai. Musharraf yang merupakan mantan pimpinan militer saat ini berstatus sebagai tahanan rumah.
Pengakuan Musharraf tersebut muncul saat dia dihadirkan di pengadilan. Tahun 2007, Musharraf mengubah konstitusi dan menerapkan status darutat untuk mencoba memperpanjang masa kekuasaannya sebagai presiden.
Hakim Faisal Arab, yang memimpin panel khusus dari tiga hakim, menolak pembelaan dari Musharraf. Keputusan hakim itu membuat Musharraf bereaksi. Dia langsung berdiri tegak dan mengucapkan; ”(Saya) tidak bersalah atas tuduhan masing-masing.”
”Saya ingin bertanya, di mana keadilan bagi saya di Republik Islam Pakistan. Saya hanya mengabdikan kepada negara ini, dan tidak mengambil apa-apa,” kata Musharraf, seperti dikutip Reuters. ”Saya lebih baik mati untuk menyerah.”
Musharraf diadili setelah Pakistan dipimpin Perdana Menteri Nawaz Sharif, yang dikenal sebagai pemimpin dari kalangan sipil. Beberapa pengamat khawatir, persidangan terhadap Musharraf bisa memicu kemarahan tentara.
Musharraf mengatakan kepada wartawan, bahwa seluruh tentara Pakistan mendukungnya, meski secara institusi militer Pakistan netral dalam setiap kasus di persidangan.
Usai persidangan, pengacara minta izin kepada pengadilan, agar kliennya diberikan kesempatan untuk mengunjungi ibunya yang sakit di Dubai. Musharraf yang merupakan mantan pimpinan militer saat ini berstatus sebagai tahanan rumah.
(mas)