Media Malaysia olok-olok berita ulah pilot MH370 & wanita
Kamis, 13 Maret 2014 - 10:22 WIB
Media Malaysia olok-olok berita ulah pilot MH370 & wanita
A
A
A
Sindonews.com – Setelah pihak Malaysia Airlines (MAS) terguncang pemberitaan media Australia soal ulah pilot MAS MH370 yang memberikan izin dua perempuan masuk ke kokpit, kini giliran media Malaysia geram.
Media Australia, yakni jaringan televisi Channel 9, awalnya memberitakan, bahwa pilot, Fariq Abd Hamid yang hilang bersama pesawat MH370, pada tahun 2011 pernah melakukan kesalahan fatal. Dia mengizinkan dua wanita Afrika Selatan masuk ke kokpit dan berpose bersama. Media itu juga merilis bukti foto-foto pilot bersama dua wanita itu.
”Perilaku (pilot) semacam ini adalah bertentangan dengan kebijakan perusahaan. Kami tidak akan berkompromi dengan tindakan yang akan mempengaruhi integritas pesawat terbang,” kata CEO MAS Ahmad Jauhari Yahya.
Namun otoritas penerbangan Malaysia mengecam pemberitaan itu. Mereka menyebut, pemberitaan semacam itu tidak menghormati privasi keluarga pilot dan penumpang yang tengah dirudung duka.
Media Malaysia ikut geram dengan pemberitaan itu. Pimpinann Media Prima, Datuk Johan Jaaffar, mengatakan, pemberitaan seperti itu merupakan produk jurnalisme selokan atau sampah. Seharusnya, kata Johan, hal seperti itu tidak dilaporkan. Dia menambahkan, prinsip jurnalisme sama di seluruh dunia.
”Itu tidak masalah dari mana berita itu datang, tetapi prinsipnya adalah semua aturan jurnalisme di mana-mana sama.” Katanya. "Ini adalah aturan tak tertulis yang harus berfungsi sebagai pedoman bagi seluruh wartawan” katanya, seperti dikutip Malaysia Digest.
Sedangkan mantan editor New Straits Times, Datuk Nuraina Samad, mengaku sedih dengan pemberitaan seperti itu.”Itu membuat saya merasa ngeri. Ini adalah jurnalisme buruk dan rasanya tidak enak.”
Laporan seperti itu, katanya, dapat memicu orang untuk melakukan penghakiman.
Mantan editor Bernama, Datuk Seri Azman Ujang, mengatakan untuk setiap laporan harusnya bersikap adil dan mencakup semua aspek.“Kebebasan pers tidak boleh disalahgunakan. Media harus bertanggung jawab. Pilot tidak ada di sekitar situ untuk membela diri . Mereka mengambil keuntungan dari situasi,” katanya.
Media Australia, yakni jaringan televisi Channel 9, awalnya memberitakan, bahwa pilot, Fariq Abd Hamid yang hilang bersama pesawat MH370, pada tahun 2011 pernah melakukan kesalahan fatal. Dia mengizinkan dua wanita Afrika Selatan masuk ke kokpit dan berpose bersama. Media itu juga merilis bukti foto-foto pilot bersama dua wanita itu.
”Perilaku (pilot) semacam ini adalah bertentangan dengan kebijakan perusahaan. Kami tidak akan berkompromi dengan tindakan yang akan mempengaruhi integritas pesawat terbang,” kata CEO MAS Ahmad Jauhari Yahya.
Namun otoritas penerbangan Malaysia mengecam pemberitaan itu. Mereka menyebut, pemberitaan semacam itu tidak menghormati privasi keluarga pilot dan penumpang yang tengah dirudung duka.
Media Malaysia ikut geram dengan pemberitaan itu. Pimpinann Media Prima, Datuk Johan Jaaffar, mengatakan, pemberitaan seperti itu merupakan produk jurnalisme selokan atau sampah. Seharusnya, kata Johan, hal seperti itu tidak dilaporkan. Dia menambahkan, prinsip jurnalisme sama di seluruh dunia.
”Itu tidak masalah dari mana berita itu datang, tetapi prinsipnya adalah semua aturan jurnalisme di mana-mana sama.” Katanya. "Ini adalah aturan tak tertulis yang harus berfungsi sebagai pedoman bagi seluruh wartawan” katanya, seperti dikutip Malaysia Digest.
Sedangkan mantan editor New Straits Times, Datuk Nuraina Samad, mengaku sedih dengan pemberitaan seperti itu.”Itu membuat saya merasa ngeri. Ini adalah jurnalisme buruk dan rasanya tidak enak.”
Laporan seperti itu, katanya, dapat memicu orang untuk melakukan penghakiman.
Mantan editor Bernama, Datuk Seri Azman Ujang, mengatakan untuk setiap laporan harusnya bersikap adil dan mencakup semua aspek.“Kebebasan pers tidak boleh disalahgunakan. Media harus bertanggung jawab. Pilot tidak ada di sekitar situ untuk membela diri . Mereka mengambil keuntungan dari situasi,” katanya.
(mas)