Jadikan wanita RI budak nafsu, salah militer Jepang tak termaafkan
Jum'at, 07 Maret 2014 - 19:30 WIB
Jadikan wanita RI budak nafsu, salah militer Jepang tak termaafkan
A
A
A
Sindonews.com - Sekelompok sejarawan Jepang pada Jumat (7/3/2014), mencela rencana Pemerintah Jepang untuk meninjau ulang permintaan maaf yang pernah diucapkan tahun 1993.
Permintaan maaf yang hendak ditinjau ulang itu, soal ulah pasukan Jepang yang menjadikan wanita Indonesia dan negara lain yang diduduki sebagai budak pemuas nafsu saat Perang Dunia (PD) II pecah.
Para sejarawan Jepang menyebut, kesalahan Tokyo yang hendak meninjau ulang permintaan maaf itu, tidak termaafkan. Rencana Pemerintah Jepang itu juga pernah dikecam Presiden Korea Selatan, Park Geun – Hye, di mana rakyatnya juga menjadi korban pasukan Jepang kala itu.
Namun, pemerintahan Perdana Menteri Shinzo Abe telah mengatakan, bahwa bukti yang diberikan oleh para wanita korban budak pemuas nafsu itu, perlu dikaji ulang kebenarannya.
Para sejarawan Jepang mengatakan, mereka menghormati sekitar 200 ribu perempuan, antara lain dari Korsel, China, Indonesia, Filipina dan Taiwan yang dipaksa melayani nafsu para tentara Jepang saat PD II terjadi.
“Ini tak bisa dimaafkan,” kata Yoshiaki Yoshimi, seorang profesor sejarah Jepang modern di Universitas Chuo dalam konferensi di Tokyo, seperti dikutip AFP. ”Dokumen-dokumen sejarah terbaru dapat memungkinkan kita untuk mengatakan bahwa militer melukai kehormatan dan martabat banyak wanita.”
Hiroshi Hayashi, seorang profesor politik di Universitas Kanto Gakuin, mengatakan ia dan rekan-rekannya menemukan setidaknya selusin dokumen baru yang membuktikan bahwa ada keterlibatan militer langsung dalam praktik itu.
”Ada lebih banyak, mungkin lebih dari 6.000 dokumen yang dirahasiakan yang telah disimpan oleh Pemerintah Jepang,” ujarnya.
Permintaan maaf yang hendak ditinjau ulang itu, soal ulah pasukan Jepang yang menjadikan wanita Indonesia dan negara lain yang diduduki sebagai budak pemuas nafsu saat Perang Dunia (PD) II pecah.
Para sejarawan Jepang menyebut, kesalahan Tokyo yang hendak meninjau ulang permintaan maaf itu, tidak termaafkan. Rencana Pemerintah Jepang itu juga pernah dikecam Presiden Korea Selatan, Park Geun – Hye, di mana rakyatnya juga menjadi korban pasukan Jepang kala itu.
Namun, pemerintahan Perdana Menteri Shinzo Abe telah mengatakan, bahwa bukti yang diberikan oleh para wanita korban budak pemuas nafsu itu, perlu dikaji ulang kebenarannya.
Para sejarawan Jepang mengatakan, mereka menghormati sekitar 200 ribu perempuan, antara lain dari Korsel, China, Indonesia, Filipina dan Taiwan yang dipaksa melayani nafsu para tentara Jepang saat PD II terjadi.
“Ini tak bisa dimaafkan,” kata Yoshiaki Yoshimi, seorang profesor sejarah Jepang modern di Universitas Chuo dalam konferensi di Tokyo, seperti dikutip AFP. ”Dokumen-dokumen sejarah terbaru dapat memungkinkan kita untuk mengatakan bahwa militer melukai kehormatan dan martabat banyak wanita.”
Hiroshi Hayashi, seorang profesor politik di Universitas Kanto Gakuin, mengatakan ia dan rekan-rekannya menemukan setidaknya selusin dokumen baru yang membuktikan bahwa ada keterlibatan militer langsung dalam praktik itu.
”Ada lebih banyak, mungkin lebih dari 6.000 dokumen yang dirahasiakan yang telah disimpan oleh Pemerintah Jepang,” ujarnya.
(mas)