Gara-gara protes drone AS, pria Pakistan diculik & disiksa
Sabtu, 15 Februari 2014 - 14:26 WIB
Gara-gara protes drone AS, pria Pakistan diculik & disiksa
A
A
A
Sindonews.com – Kareem Khan, pria Pakistan yang gencar memprotes serangan drone Amerika Serikat (AS) ke negaranya, akhirnya pulang ke rumahnya. Dia mengaku selama ini diculik dan disiksa orang-orang berpakaian polisi dan sipil.
Pengakuan itu disampaikan pengacaranya kemarin. Kareem Khan terakhir terlihat pada 5 Februari 2014 dini hari di luar rumahnya, sekitar sembilan kilometer dari Islamabad. Dia mengaku, telah diculik oleh 15-20 orang. Beberapa dari penculiknya mengenakan seragam polisi.
Saat diculik, istri dan anak-anaknya juga berada di rumahnya. Penculikan itu terjadi, beberapa hari sebelum Khan dijadwalkan untuk bersaksi kepada anggota parlemen di Eropa tentang serangan pesawat tak berawak militer AS di negaranya. Serangan itu telah menewaskan ayahnya, saudara laki-laki , dan seorang pemimpin Taliban yang diduga berlindung di keluarganya.
Akibat penculikan dan penyiksaan, Khan bersiap menuntut Pemerintah Pakistan dan Central Intelligence Agency (CIA) atas kematian orang-orang yang dicintainya. Pihak Islamabad sejatinya telah mengutuk secara terbuka serangan pesawat tak berawak militer AS, namun gagal meyakinkan masyarakat internasional karena, muncul laporan yang menyebut Pemerintah Pakistan secara tidak langsung memberikan izin serangan tersebut.
Shahzad Akbar, pengacara Khan, seperti dikutip RT, Sabtu (15/2/2014), mengatakan kliennya telah aman dan kembali ke rumahnya, setelah ia dipukuli pada telapak kakinya. Akbar mengatakan Khan pertama kali disiksa oleh orang-orang berseragam polisi dan pria dengan pakain sipil.
”Dia ditanya tentang banyak hal yang dia sendiri tidak tahu. Dia ditanya tentang nama-nama korban serangan drone,” kata Akbar. ”Dia diperingatkan untuk tidak memberitahu media jika dia sudah dibebaskan.”
Pengakuan itu disampaikan pengacaranya kemarin. Kareem Khan terakhir terlihat pada 5 Februari 2014 dini hari di luar rumahnya, sekitar sembilan kilometer dari Islamabad. Dia mengaku, telah diculik oleh 15-20 orang. Beberapa dari penculiknya mengenakan seragam polisi.
Saat diculik, istri dan anak-anaknya juga berada di rumahnya. Penculikan itu terjadi, beberapa hari sebelum Khan dijadwalkan untuk bersaksi kepada anggota parlemen di Eropa tentang serangan pesawat tak berawak militer AS di negaranya. Serangan itu telah menewaskan ayahnya, saudara laki-laki , dan seorang pemimpin Taliban yang diduga berlindung di keluarganya.
Akibat penculikan dan penyiksaan, Khan bersiap menuntut Pemerintah Pakistan dan Central Intelligence Agency (CIA) atas kematian orang-orang yang dicintainya. Pihak Islamabad sejatinya telah mengutuk secara terbuka serangan pesawat tak berawak militer AS, namun gagal meyakinkan masyarakat internasional karena, muncul laporan yang menyebut Pemerintah Pakistan secara tidak langsung memberikan izin serangan tersebut.
Shahzad Akbar, pengacara Khan, seperti dikutip RT, Sabtu (15/2/2014), mengatakan kliennya telah aman dan kembali ke rumahnya, setelah ia dipukuli pada telapak kakinya. Akbar mengatakan Khan pertama kali disiksa oleh orang-orang berseragam polisi dan pria dengan pakain sipil.
”Dia ditanya tentang banyak hal yang dia sendiri tidak tahu. Dia ditanya tentang nama-nama korban serangan drone,” kata Akbar. ”Dia diperingatkan untuk tidak memberitahu media jika dia sudah dibebaskan.”
(mas)