Jadi polisi, wanita Afghanistan 3 kali hendak dihabisi kerabatnya
Kamis, 16 Januari 2014 - 17:44 WIB
Jadi polisi, wanita Afghanistan 3 kali hendak dihabisi kerabatnya
A
A
A
Sindonews.com – Nama polisi perempuan ini Kolonel Bayaz Jamila. Jabatannya, cukup mentereng, yakni kepala polisi di sebuah distrik di Kabul, Afghanistan.
Jamila yang sudah 25 tahun berpengalaman sebagai polisi, menjadi kepala polisi wanita pertama di Kabul. Baginya, bergabung di kepolisian adalah misi penting untuk negaranya. “Saya pikir cerita tugas saya ini akan membujuk orang lain untuk bergabung dengan kepolisian,” katanya, seperti dilansir Daily Mail, semalam.
Memilih karir sebagai polisi, wanita itu mempertaruhkan nyawanya. Ancaman yang sering dia terima, justru dari keluarganya sendiri. Di negara itu, wanita menjadi polisi masih tabu. Tidak heran, tahun lalu polisi perempuan paling senior di Afghanistan ditembak mati di wilayah Helmand, ketika hendak berangkat ke kantornya.
Wanita berusia 37 tahun ini, menjadi idola para perempuan di Afghanistan. Dia dalam sebuah wawancara, menceritakan ancaman pembunuhan dari kerabatnya ketika bertekad menjadi polisi. ”Saudara saya mencoba membunuh saya tiga kali,” akunya.
”Dia datang menemui saya, menodongkan pistol, meminta saya untuk tidak melakukannya (menjadi polisi). Saya tidak takut, dia akhirnya pergi dengan pistolnya,” lanjut dia.
Kepala Polisi Provinsi Kabul, Jenderal Mohammed Zahir Zahir, berujar; ”Kami tidak berusaha untuk menempatkan seorang petugas perempuan di posisi lemah. Tidak seperti itu. Kami memulai proses ini, di posisi ini, karena wanita mampu bekerja seperti laki-laki.”
Jamila yang sudah 25 tahun berpengalaman sebagai polisi, menjadi kepala polisi wanita pertama di Kabul. Baginya, bergabung di kepolisian adalah misi penting untuk negaranya. “Saya pikir cerita tugas saya ini akan membujuk orang lain untuk bergabung dengan kepolisian,” katanya, seperti dilansir Daily Mail, semalam.
Memilih karir sebagai polisi, wanita itu mempertaruhkan nyawanya. Ancaman yang sering dia terima, justru dari keluarganya sendiri. Di negara itu, wanita menjadi polisi masih tabu. Tidak heran, tahun lalu polisi perempuan paling senior di Afghanistan ditembak mati di wilayah Helmand, ketika hendak berangkat ke kantornya.
Wanita berusia 37 tahun ini, menjadi idola para perempuan di Afghanistan. Dia dalam sebuah wawancara, menceritakan ancaman pembunuhan dari kerabatnya ketika bertekad menjadi polisi. ”Saudara saya mencoba membunuh saya tiga kali,” akunya.
”Dia datang menemui saya, menodongkan pistol, meminta saya untuk tidak melakukannya (menjadi polisi). Saya tidak takut, dia akhirnya pergi dengan pistolnya,” lanjut dia.
Kepala Polisi Provinsi Kabul, Jenderal Mohammed Zahir Zahir, berujar; ”Kami tidak berusaha untuk menempatkan seorang petugas perempuan di posisi lemah. Tidak seperti itu. Kami memulai proses ini, di posisi ini, karena wanita mampu bekerja seperti laki-laki.”
(mas)