Mata-matai Rusia, AS pasang 100.000 alat di komputer
Rabu, 15 Januari 2014 - 15:50 WIB
Mata-matai Rusia, AS pasang 100.000 alat di komputer
A
A
A
Sindonews.com – National Security Agency (NSA) Amerika Serikat memasang sekitar 100.000 perangkat implan di dalam komputer untuk memata-matai lembaga-lembaga militer asing, terutama Rusia dan China.
Selain kedua negara itu, target NSA adalah kelompok perdagangan Uni Eropa dan lembaga lain di Arab Saudi, India dan Pakistan.
Sebuah dokumen rahasia NSA yang dikutip New York Times, menyatakan, NSA menggunakan teknologi gelombang radio untuk mendapatkan akses ke komputer negara lain, jika tidak terhubung internet.
Alat-alat NSA yang berukuran mini itu, telah digunakan beberapa tahun.Teknologi ini diklaim mampu mengakses komputer negara lain meski tidak terhubung internet. ”NSA menyebutnya upaya pertahanan aktif,” tulis media AS itu, kemarin.
“(Teknologi) itu telah digunakan untuk memantau unit tentara China dan Rusia, kartel narkoba, perdagangan di Uni Eropa, dan sekutu AS termasuk Arab Saudi, India dan Pakistan,” lanjut laporan New York Times.
Sementara itu, pihak NSA menepis bocoran dokumen tersebut. ”Kegiatan NSA adalah fokus untuk melawan target-target intelijen asing,” kata Vance Vines, juru bicara NSA. ”Kami tidak menggunakan kemampuan intelijen untuk mencuri rahasia dagang dari perusahaan asing.”
Selain kedua negara itu, target NSA adalah kelompok perdagangan Uni Eropa dan lembaga lain di Arab Saudi, India dan Pakistan.
Sebuah dokumen rahasia NSA yang dikutip New York Times, menyatakan, NSA menggunakan teknologi gelombang radio untuk mendapatkan akses ke komputer negara lain, jika tidak terhubung internet.
Alat-alat NSA yang berukuran mini itu, telah digunakan beberapa tahun.Teknologi ini diklaim mampu mengakses komputer negara lain meski tidak terhubung internet. ”NSA menyebutnya upaya pertahanan aktif,” tulis media AS itu, kemarin.
“(Teknologi) itu telah digunakan untuk memantau unit tentara China dan Rusia, kartel narkoba, perdagangan di Uni Eropa, dan sekutu AS termasuk Arab Saudi, India dan Pakistan,” lanjut laporan New York Times.
Sementara itu, pihak NSA menepis bocoran dokumen tersebut. ”Kegiatan NSA adalah fokus untuk melawan target-target intelijen asing,” kata Vance Vines, juru bicara NSA. ”Kami tidak menggunakan kemampuan intelijen untuk mencuri rahasia dagang dari perusahaan asing.”
(mas)