Hollande: Perancis akan segera gelar operasi militer di CAR
Jum'at, 06 Desember 2013 - 03:29 WIB
Hollande: Perancis akan segera gelar operasi militer di CAR
A
A
A
Sindonews.com – Presiden Perancis, Francois Hollande, mengatakan pada Kamis (5/12/2013), bahwa operasi militer yang dipimpin Perancis untuk melindungi warga sipil di Republik Afrika Tengah (CAR), akan segera diluncurkan setelah turunnya otorisasi dari Dewan Keamanan (DK) PBB.
"Saya telah memutuskan untuk segera bertindak, dengan kata lain, malam ini," kata Hollande seperti dikutip dari Reuters. Menurutnya, saat ini tentara Perancis di CAR berjumlah 600 personel. “Jumlah ini akan menjadi dua kali lipat pada awal malam ini, berkat bala bantuan dari negara-negara tetangga,” jelasnya.
Langkah yang diambil Hollande ini didasari pada perkembangan yang terjadi di CAR saat ini, di mana bentrokan antara milisi bisa meningkat menjadi pembantaian warga sipil. Seorang saksi mata dan seorang pekerja bantuan mengatakan pada Reuters, sedikitnya 105 orang tewas dalam pertempuran antara milisi.
Warga sipil menjadi korban paling banyak akibat bentrokan di Ibu Kota Bangui ini. "Kami telah menerima banyak laporan dari sumber-sumber yang sangat kredibel soal eksekusi di luar koridor hukum," kata Joanne Mariner, seorang aktivis dari Amnesty International yang saat ini berada di Bangui.
"Ini menggarisbawahi perlunya pasukan internasional segera tiba dan mengamankan kota. Situasi ini dengan cepat bisa berada di luar kendali," tambah Mariner.
"Saya telah memutuskan untuk segera bertindak, dengan kata lain, malam ini," kata Hollande seperti dikutip dari Reuters. Menurutnya, saat ini tentara Perancis di CAR berjumlah 600 personel. “Jumlah ini akan menjadi dua kali lipat pada awal malam ini, berkat bala bantuan dari negara-negara tetangga,” jelasnya.
Langkah yang diambil Hollande ini didasari pada perkembangan yang terjadi di CAR saat ini, di mana bentrokan antara milisi bisa meningkat menjadi pembantaian warga sipil. Seorang saksi mata dan seorang pekerja bantuan mengatakan pada Reuters, sedikitnya 105 orang tewas dalam pertempuran antara milisi.
Warga sipil menjadi korban paling banyak akibat bentrokan di Ibu Kota Bangui ini. "Kami telah menerima banyak laporan dari sumber-sumber yang sangat kredibel soal eksekusi di luar koridor hukum," kata Joanne Mariner, seorang aktivis dari Amnesty International yang saat ini berada di Bangui.
"Ini menggarisbawahi perlunya pasukan internasional segera tiba dan mengamankan kota. Situasi ini dengan cepat bisa berada di luar kendali," tambah Mariner.
(esn)