OPCW pertimbangkan hancurkan senjata kimia Suriah di laut
Kamis, 21 November 2013 - 19:40 WIB
OPCW pertimbangkan hancurkan senjata kimia Suriah di laut
A
A
A
Sindonews.com - Organisasi untuk Pelarangan Senjata Kimia (OPCW) mengungkapkan, lebih dari 1.000 ton senjata kimia Suriah dapat dihancurkan di laut. Hal itu bisa saja terjasi, sebab hingga kini tidak ada negara yang mengizinkan wilayah mereka sebagai tempat penghancuran senjata kimia tersebut, Rabu (20/11/2013).
“Kemungkinan ini telah ditinjau selama beberapa waktu,” ungkap Christian Chartier, Juru Bicara OPCW kepada AFP.
“Langkah tersebut masih dalam tahap pembahasan dan merupakan salah satu dari beberapa solusi yang ditawarkan oleh sejumlah negara anggota dan keputusan final belum diambil, tapi hal itu mungkin terjadi,” imbuh Chartier.
Chartier menekankan, hingga kini penghancuran senjata kimia di darat masih menjadi pilihan yang relevan. "Kemungkinan ini tidak mengesampingkan fakta, bahwa sejumlah negara anggota tetap mencari cara untuk menghancurkan senjata itu di darat," jelasnya.
Alternatif cara tersebut datang, setelah rencana Pemerintah Amerika Serikat (AS) untuk menghancurkan senjata kimia Suriah kembali menghadapi sandungan. Pekan lalu, untuk kedua kalinya pemerintah AS menerima penolakan dari negara yang telah diminta untuk menjadi tuan rumah lokasi penghancuran senjata kimia Suriah yang jumlahnya mencapai ribuan ton, Jumat (15/11/2013).
Pemerintah Albania menolak permintaan AS untuk menjadi tuan rumah penghancuran 1.300 senjata kimia, seperti sarin, mustard dan segala bentuk senjata kimia lainnya.
"Tidak mungkin bagi Albania untuk terlibat dalam operasi ini, hanya dalam waktu dua bulan," ungkap Perdana Menteri Albania, Edi Rama dalam sebuah pidato yang disiarkan kepada warga Albania.
"Kami tidak memiliki kapasitas yang diperlukan untuk terlibat dalam operasi tersebut," lanjut Rama.
“Kemungkinan ini telah ditinjau selama beberapa waktu,” ungkap Christian Chartier, Juru Bicara OPCW kepada AFP.
“Langkah tersebut masih dalam tahap pembahasan dan merupakan salah satu dari beberapa solusi yang ditawarkan oleh sejumlah negara anggota dan keputusan final belum diambil, tapi hal itu mungkin terjadi,” imbuh Chartier.
Chartier menekankan, hingga kini penghancuran senjata kimia di darat masih menjadi pilihan yang relevan. "Kemungkinan ini tidak mengesampingkan fakta, bahwa sejumlah negara anggota tetap mencari cara untuk menghancurkan senjata itu di darat," jelasnya.
Alternatif cara tersebut datang, setelah rencana Pemerintah Amerika Serikat (AS) untuk menghancurkan senjata kimia Suriah kembali menghadapi sandungan. Pekan lalu, untuk kedua kalinya pemerintah AS menerima penolakan dari negara yang telah diminta untuk menjadi tuan rumah lokasi penghancuran senjata kimia Suriah yang jumlahnya mencapai ribuan ton, Jumat (15/11/2013).
Pemerintah Albania menolak permintaan AS untuk menjadi tuan rumah penghancuran 1.300 senjata kimia, seperti sarin, mustard dan segala bentuk senjata kimia lainnya.
"Tidak mungkin bagi Albania untuk terlibat dalam operasi ini, hanya dalam waktu dua bulan," ungkap Perdana Menteri Albania, Edi Rama dalam sebuah pidato yang disiarkan kepada warga Albania.
"Kami tidak memiliki kapasitas yang diperlukan untuk terlibat dalam operasi tersebut," lanjut Rama.
(esn)