China desak PM Jepang hadapi fakta sejarah
Senin, 08 Juli 2013 - 22:12 WIB
China desak PM Jepang hadapi fakta sejarah
A
A
A
Sindonews.com – Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe diminta menghadapi fakta sejarah dan berhenti menyakiti perasaan orang di negara-negara yang menjadi korban invasi Jepang di masa Perang Dunia II. Demikian dinyatakan oleh Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Hua Chunying, Senin (8/7/2013).
Chunying membuat komentar itu dalam sebuah briefing harian dan untuk menanggapi pertanyaan Abe tentang sejarah. "Setiap negara memiliki kebanggaan dalam sejarahnya, sehingga apa yang penting adalah memiliki rasa saling menghormati," kata Abe dalam sebuah acara televisi pada akhir pekan lalu.
"Kami terkejut dengan yang pemimpin Jepang katakan,” ujar Chunying, seperti dikutip dari Xinhua. Menurutnya, komentar itu dilontarkan Abe bertepatan dengan peringatan 76 tahun serangan besar Jepang terhadap China, yang dikenal sebagai Insiden Lugouqiao.
“Tak bisa dipungkiri, bahwa invasi Jepang ke negara-negara tetangganya di Asia telah menyebabkan kesakitan dan bencana pada orang-orang di sana,” kata Chunying. “Apa yang Jepang harus lakukan adalah tidak "bangga", tapi melihat dan melakukan pertanyaan pada diri sendiri tentang sejarah invasi,” lanjutnya.
Menurutnya, pihak Jepang harus berhenti menggunakan sejarah sebagai alat untuk menyakiti perasaan orang-orang Asia. "Sekali lagi, kami sarankan pihak Jepang untuk mendengarkan dengan cermat panggilan keadilan masyarakat internasional dan menghadapi sejarah dengan cara yang tulus," kata juru bicara itu.
Chunying membuat komentar itu dalam sebuah briefing harian dan untuk menanggapi pertanyaan Abe tentang sejarah. "Setiap negara memiliki kebanggaan dalam sejarahnya, sehingga apa yang penting adalah memiliki rasa saling menghormati," kata Abe dalam sebuah acara televisi pada akhir pekan lalu.
"Kami terkejut dengan yang pemimpin Jepang katakan,” ujar Chunying, seperti dikutip dari Xinhua. Menurutnya, komentar itu dilontarkan Abe bertepatan dengan peringatan 76 tahun serangan besar Jepang terhadap China, yang dikenal sebagai Insiden Lugouqiao.
“Tak bisa dipungkiri, bahwa invasi Jepang ke negara-negara tetangganya di Asia telah menyebabkan kesakitan dan bencana pada orang-orang di sana,” kata Chunying. “Apa yang Jepang harus lakukan adalah tidak "bangga", tapi melihat dan melakukan pertanyaan pada diri sendiri tentang sejarah invasi,” lanjutnya.
Menurutnya, pihak Jepang harus berhenti menggunakan sejarah sebagai alat untuk menyakiti perasaan orang-orang Asia. "Sekali lagi, kami sarankan pihak Jepang untuk mendengarkan dengan cermat panggilan keadilan masyarakat internasional dan menghadapi sejarah dengan cara yang tulus," kata juru bicara itu.
(esn)