AS: Meski sulit, perdamaian di Timur Tengah bisa tercapai
Kamis, 27 Juni 2013 - 02:31 WIB
AS: Meski sulit, perdamaian di Timur Tengah bisa tercapai
A
A
A
Sindonews.com – Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS), John Kerry, menyuarakan keyakinannya, bahwa baik pemimpin Israel ataupun Palestina, sama-sama menginginkan perdamaian. Hal ini diungkapkan Kerry dalam lawatannya ke Kuwait, Rabu (26/6/2013).
"Saya tidak akan berada di sini, jika saya tidak memiliki keyakinan bahwa ini (perdamaian) adalah hal yang mungkin dicapai. Tapi, itu sulit. Kita semua tahu betapa sulitnya," kata Kerry kepada wartawan di Kuwait, sesaat sebelum lepas landas ke Amman.
Dalam lawatan ke Timur Tengah kali ini, Kerry menyambangi sejumlah negara. Selain Kuwait, Kerry juga mengunjungi Qatar dan Arab Saudi. Pada Kamis (27/6/2013), ia dijadwalkan menginjakan kaki di Yerusalem untuk bertemu dengan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.
Satu hari kemudian, Kerry akan terbang ke Tepi Barat dan dijadwalkan bertemu dengan Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas. "Saya cukup percaya diri dalam komitmen serius mereka untuk mencapai tujuan. Saya percaya mereka menginginkan proses perdamaian yang lebih besar, daripada satu hari atau satu saat," jelas Kerry.
Namun, keyakinan Kerry ini bertolak belakang dengan kondisi yang berkembang di lapangan. Pada Rabu, Komite Perencanaan Israel memberikan persetujuan akhir untuk pembangunan 69 rumah pemukim baru di Yerusalem timur. Langkah ini diyakini akan kian memanaskan hubungan Israel-Palestina.
"Saya tidak akan berada di sini, jika saya tidak memiliki keyakinan bahwa ini (perdamaian) adalah hal yang mungkin dicapai. Tapi, itu sulit. Kita semua tahu betapa sulitnya," kata Kerry kepada wartawan di Kuwait, sesaat sebelum lepas landas ke Amman.
Dalam lawatan ke Timur Tengah kali ini, Kerry menyambangi sejumlah negara. Selain Kuwait, Kerry juga mengunjungi Qatar dan Arab Saudi. Pada Kamis (27/6/2013), ia dijadwalkan menginjakan kaki di Yerusalem untuk bertemu dengan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.
Satu hari kemudian, Kerry akan terbang ke Tepi Barat dan dijadwalkan bertemu dengan Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas. "Saya cukup percaya diri dalam komitmen serius mereka untuk mencapai tujuan. Saya percaya mereka menginginkan proses perdamaian yang lebih besar, daripada satu hari atau satu saat," jelas Kerry.
Namun, keyakinan Kerry ini bertolak belakang dengan kondisi yang berkembang di lapangan. Pada Rabu, Komite Perencanaan Israel memberikan persetujuan akhir untuk pembangunan 69 rumah pemukim baru di Yerusalem timur. Langkah ini diyakini akan kian memanaskan hubungan Israel-Palestina.
(esn)