Setuju berunding dengan Palestina, Israel tunjukan itikad baik
Selasa, 25 Juni 2013 - 20:47 WIB
Setuju berunding dengan Palestina, Israel tunjukan itikad baik
A
A
A
Sindonews.com - Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu setuju melajutkan pembicaraan damai dengan Palestina yang digagas oleh Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) John Kerry. Demikian dilaporkan Ma'ariv, media Israel.
Ma'ariv mengabarkan, bahwa Netanyahu telah setujui untuk membebaskan tahanan Palestina yang ditahan di penjara Israel sebelum Kesepakatan Oslo 1993 dan meninjau kembali keputusan kabinetnya untuk membekukan pembangunan di permukiman Tepi Barat. Disebutkan pula, bahwa Presiden Palestina Mahmoud Abbas telah menyetujui permintaan Kerry untuk mengesampingkan sejumlah syarat yang mereka ajukan sebelum proses perundingan damai berlanjut.
Netayahu juga memperingatkan, bahwa perundingan damai akan gagal jika kedua belah pihak yang bertikai tidak punya waktu untuk membahas ini permasalahan. "Tujuan kami bukan hanya menjajaki kembali perundingan dan memberikan tanda ceklist bahwa negosiasi awal telah terselanggara," ungkapnya.
"Tujuan kami adalah melakukan pembicaraan yang berkelanjutan selama periode tertentu, mencoba membuat kesepakatan atas beberbagai isu dan menyelesaikan masalah paling terpenting dari konflik ini. Mewujudkan itu semua buth waktu, tekad dan pendakatan metodis. Saya berharap Palestina punya itu semua. Itulah pendekatan yang akan kami pakai," ungkap Netayahu.
Kamis besok, Kerry akan kembali mengunjungi Yerusalem untuk mewujudkan negosiasi damai Palestina-Israel. Demi suksesnya perundingan damai antara Israel-Palestina, Kerry sebelumnya mengeluarkan peringatan keras kepada Israel. "Kami kehabisan waktu. Kami tidak memiliki kemungkinan lain. Jika usaha kali ini tidak berhasil, maka kita tidak punya kesempatan lain ke depannya," ungkap Kerry dalam sebuah pertemuan forum lobi Komunitas Yahudi Amerika di Washington, Senin (4/6/2013) lalu.
Kerry kemudian bersumpah, bahwa perdamaian akan terwujud bagi Israel dan Palestina. Penyelesaian konflik Palestina-Israel punya manfaat luas bagi kepantingan banyak orang. Sebaliknya, konflik yang terus berlanjut akan menimbulkan konsekuensi serius bagi keduanya.
Ma'ariv mengabarkan, bahwa Netanyahu telah setujui untuk membebaskan tahanan Palestina yang ditahan di penjara Israel sebelum Kesepakatan Oslo 1993 dan meninjau kembali keputusan kabinetnya untuk membekukan pembangunan di permukiman Tepi Barat. Disebutkan pula, bahwa Presiden Palestina Mahmoud Abbas telah menyetujui permintaan Kerry untuk mengesampingkan sejumlah syarat yang mereka ajukan sebelum proses perundingan damai berlanjut.
Netayahu juga memperingatkan, bahwa perundingan damai akan gagal jika kedua belah pihak yang bertikai tidak punya waktu untuk membahas ini permasalahan. "Tujuan kami bukan hanya menjajaki kembali perundingan dan memberikan tanda ceklist bahwa negosiasi awal telah terselanggara," ungkapnya.
"Tujuan kami adalah melakukan pembicaraan yang berkelanjutan selama periode tertentu, mencoba membuat kesepakatan atas beberbagai isu dan menyelesaikan masalah paling terpenting dari konflik ini. Mewujudkan itu semua buth waktu, tekad dan pendakatan metodis. Saya berharap Palestina punya itu semua. Itulah pendekatan yang akan kami pakai," ungkap Netayahu.
Kamis besok, Kerry akan kembali mengunjungi Yerusalem untuk mewujudkan negosiasi damai Palestina-Israel. Demi suksesnya perundingan damai antara Israel-Palestina, Kerry sebelumnya mengeluarkan peringatan keras kepada Israel. "Kami kehabisan waktu. Kami tidak memiliki kemungkinan lain. Jika usaha kali ini tidak berhasil, maka kita tidak punya kesempatan lain ke depannya," ungkap Kerry dalam sebuah pertemuan forum lobi Komunitas Yahudi Amerika di Washington, Senin (4/6/2013) lalu.
Kerry kemudian bersumpah, bahwa perdamaian akan terwujud bagi Israel dan Palestina. Penyelesaian konflik Palestina-Israel punya manfaat luas bagi kepantingan banyak orang. Sebaliknya, konflik yang terus berlanjut akan menimbulkan konsekuensi serius bagi keduanya.
(esn)