Arab Saudi dituding kirim ratusan militan ke Irak
Selasa, 19 Maret 2013 - 17:03 WIB
Arab Saudi dituding kirim ratusan militan ke Irak
A
A
A
Sindonews.com - Sebuah kelompok al-Qaeda yang memiliki kaitan dengan Badan Intelejen Arab Saudi dilaporkan telah mengirim 600 personel ke Kota Basra, Irak untuk melancarkan serangan teroris. Demikian dilaporkan oleh Press tv, Senin (18/3/2013).
Menurut Press tv, ratusan orang tersebut diperintahkan untuk melancarkan serangan pengeboman terhadap pipa dan kilang minyak di Irak. Selain itu, mereka juga diperintahkan untuk menciptakan ketidakstabilan di Kota Basra dengan menghasut kekerasan antar etnis, beberapa personel juga melancarkan operasi penyerangan.
Dalam laporan tersebut disebutkan, beberapa orang memiliki kartu identitas palsu yang diduga dikeluarkan oleh Universitas Al-Salam, Madinah, Arab Saudi.
Pemerintah Irak mengatakan, Arab Saudi, Qatar, dan Turki mempelopori kampanye untuk menghasut kekerasan dan perselisihan etnis di Irak. Dilaporkan, para pria itu menerima pelatihan di wilayah perbatasan Suriah dan Irak. Mereka akan melancarkan serangan di sejumlah situs keamanan di Kota Samarra, Baghdad, Karbala, dan Najaf.
Menurut salah satu Komandan Militer Irak, Komandan Intelejen Militer Arab Saudi, Bandar bin Sultan bin Abdulaziz Al Saud telah mengalokasikan dana sebsar USD 250 juta untuk melancarkan operasi teroris di Irak. Bandar bin Sultan juga dilaporkan telah menyewa Tariq al-Hashemi, mantan Wakil Presiden Irak untuk melancarkan serangan teroris.
Desember 2011 lalu, mantan Wapres Irak ini dituduh sebagai dalang di balik 150 aksi pemboman, pembunuhan, penculikan, dan serangan lainnya antara 2005 hingga 2011. Sebagian aksi ini diyakini dilakukan oleh pengawal al-Hashemi atau anak buah lainnya.
Pengadilan Irak telah menjatuhkan hukuman mati secara in absentia (tanpa kehadiran terdakwa) pada al-Hashemi. Namun, al-Hashemi mengatakan, tuduhan yang dialamatkan pada dirinya bermotif politik.
Menurut Press tv, ratusan orang tersebut diperintahkan untuk melancarkan serangan pengeboman terhadap pipa dan kilang minyak di Irak. Selain itu, mereka juga diperintahkan untuk menciptakan ketidakstabilan di Kota Basra dengan menghasut kekerasan antar etnis, beberapa personel juga melancarkan operasi penyerangan.
Dalam laporan tersebut disebutkan, beberapa orang memiliki kartu identitas palsu yang diduga dikeluarkan oleh Universitas Al-Salam, Madinah, Arab Saudi.
Pemerintah Irak mengatakan, Arab Saudi, Qatar, dan Turki mempelopori kampanye untuk menghasut kekerasan dan perselisihan etnis di Irak. Dilaporkan, para pria itu menerima pelatihan di wilayah perbatasan Suriah dan Irak. Mereka akan melancarkan serangan di sejumlah situs keamanan di Kota Samarra, Baghdad, Karbala, dan Najaf.
Menurut salah satu Komandan Militer Irak, Komandan Intelejen Militer Arab Saudi, Bandar bin Sultan bin Abdulaziz Al Saud telah mengalokasikan dana sebsar USD 250 juta untuk melancarkan operasi teroris di Irak. Bandar bin Sultan juga dilaporkan telah menyewa Tariq al-Hashemi, mantan Wakil Presiden Irak untuk melancarkan serangan teroris.
Desember 2011 lalu, mantan Wapres Irak ini dituduh sebagai dalang di balik 150 aksi pemboman, pembunuhan, penculikan, dan serangan lainnya antara 2005 hingga 2011. Sebagian aksi ini diyakini dilakukan oleh pengawal al-Hashemi atau anak buah lainnya.
Pengadilan Irak telah menjatuhkan hukuman mati secara in absentia (tanpa kehadiran terdakwa) pada al-Hashemi. Namun, al-Hashemi mengatakan, tuduhan yang dialamatkan pada dirinya bermotif politik.
(esn)