Maret, India & Australia akan mulai pembicaraan nuklir
Selasa, 22 Januari 2013 - 07:00 WIB
Maret, India & Australia akan mulai pembicaraan nuklir
A
A
A
Sindonews.com - India dan Australia berencana untuk memulai pembicaraan kerjasama sipil nuklir. Hal ini bisa terwujud, setelah tahun lalu Australia setuju untuk membuka negosiasi guna mengekspor bahan bakar uranium ke negara Asia Selatan itu.
"Kita akan mulai negosiasi pada Perjanjian Kerjasama Energi Nuklir Sipil pada Maret. Kedua negara akan mengadakan putaran pertama pembicaraan di ibukota India,” kata Menteri Luar Negeri Salman Khurshid, Senin (21/1/2013).
Pernyataan ini disampaikan Khurshid, setelah melakukan diskusi dengan mitranya dari Australia, Bob Carr, di ibu kota India, New Delhi. "India merupakan bagian penting dari masa depan Australia," kata Carr.
Sebelumnya, Australia sempat menolak untuk menjual uranium ke India, karena negara itu belum menandatangani Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir. Tapi pada Oktober lalu, Australia mengubah sikapnya. Hal ini dikarenakan Australia ingin meningkatkan hubungan dengan kekuatan ekonomi terbesar ketiga di Asia itu.
Kedua negara mengatakan, negosiasi formal ini bisa bertahan hingga dua tahun. India yang didukung oleh Amerika Serikat, mendapat pengecualian khusus pada 2008 dari Kelompok Pemasok Nuklir (NSG), yang mengatur perdagangan nuklir global. Pengecualian ini memungkinkan India untuk membeli reaktor dan bahan bakar dari luar negeri.
India, yang memiliki hubungan tegang dengan negara tetangganya yang juga memiliki nuklir, Pakistan, telah dikenakan embargo global sejak 1970-an, ketika pertama kali melakukan uji coba senjata nuklir.
New Delhi telah berupaya untuk menjalin kerja sama dengan sejumlah negara-negara yang memiliki cadangan uranium, seperti Mongolia, Tajikistan dan Kanada.
"Kita akan mulai negosiasi pada Perjanjian Kerjasama Energi Nuklir Sipil pada Maret. Kedua negara akan mengadakan putaran pertama pembicaraan di ibukota India,” kata Menteri Luar Negeri Salman Khurshid, Senin (21/1/2013).
Pernyataan ini disampaikan Khurshid, setelah melakukan diskusi dengan mitranya dari Australia, Bob Carr, di ibu kota India, New Delhi. "India merupakan bagian penting dari masa depan Australia," kata Carr.
Sebelumnya, Australia sempat menolak untuk menjual uranium ke India, karena negara itu belum menandatangani Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir. Tapi pada Oktober lalu, Australia mengubah sikapnya. Hal ini dikarenakan Australia ingin meningkatkan hubungan dengan kekuatan ekonomi terbesar ketiga di Asia itu.
Kedua negara mengatakan, negosiasi formal ini bisa bertahan hingga dua tahun. India yang didukung oleh Amerika Serikat, mendapat pengecualian khusus pada 2008 dari Kelompok Pemasok Nuklir (NSG), yang mengatur perdagangan nuklir global. Pengecualian ini memungkinkan India untuk membeli reaktor dan bahan bakar dari luar negeri.
India, yang memiliki hubungan tegang dengan negara tetangganya yang juga memiliki nuklir, Pakistan, telah dikenakan embargo global sejak 1970-an, ketika pertama kali melakukan uji coba senjata nuklir.
New Delhi telah berupaya untuk menjalin kerja sama dengan sejumlah negara-negara yang memiliki cadangan uranium, seperti Mongolia, Tajikistan dan Kanada.
(esn)