Musuhi Abbas, Peres kecam Netayahu
Senin, 31 Desember 2012 - 11:11 WIB
Musuhi Abbas, Peres kecam Netayahu
A
A
A
Sindonews.com - Presiden Israel Shimon Peres mengencam sikap Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan Mantan Menteri Luar Negeri Israel Avigdor Lieberman karena sikap mereka terhadap Presiden Palestina Mahmoud Abbas, Minggu (30/12/2012). Pasalnya, akhir pekan lalu keduanya menyebut Abbas sebagai penghambat perdamaian dan meminta Abbas untuk mundur dari jabatanya.
"Seorang diplomat tidak seharusnya untuk menakut-nakuti dunia. Sebagai seorang diplomat, lebih baik bertingkah seperti singa berbulu domba daripada bertindak sebagai domba yang mengaum seperti singa dan mencoba menakut-nakuti dunia. Tujuan diplomasi adalah mencari teman bukan untuk menyingkirkan musuh," ungkap Peres seperti diberitakan dalam Xinhua, Senin (31/12/2012).
Dihadapan 160 diplomat manca negara Peres berulangkali mengatakan tidak ada mitra lain selain Abu Mazen (Mahmud Abbas), dia merupakan satu-satunya pemimpin Arab yang dapat mencapai kesepakatan dengan pemimpin Israel. "Saya sudah mengenal dia selama 30 tahun, pendapat seseorang tidak akan mengubah pendapat saya tentang dia," ungkap Perez.
Peres mengatakan tidak semua yang dillakukan Abbas adalah tindakan tercela, tapi dia tidak setuju dengan dengan ungkapan PM Netanyahu. "Netanyahu mengatakan, Abbas memang mendukung perdamian namun dia telah gagal mengutuk aksi penembakan roket ke wilayah Israel yang dilakukan oleh Hamas," ungkap Peres seperti diberitakan Jpost.
Dalam kesempatan tersebut Peres mengajak semua diplomat untuk melihat sikap Abbas yang sangat terbuka mendukung perdamian Israel dan Palestina. "Saya mengajak semua duta besar yang hadir untuk menemparkan diri anda pada posisi Abbas, dan tanyakan pada diri kalian apakah kalian siap hilangan wilayah tempat anda dilahirkan. Seperti diketahui, dia siap berdamai dengan Israel dan siap menanggung risiko kehilangan tanah kelahiran dengan mengatakan tidak akan kembali ke sana,"ungkap Peres.
Peres mengatakan sebagian seorang pemimpin, Abbas sepatutnya mendapat pujian atas keberanian menanggung semua resiko atas tindakanya mendukung mengupayakan perdamian. "Saya tahu ada banyak kritik yang dia ungkapkan, tapi sebagai seorang pemimpin arab dibutuhkan sebuah keberanian besar untuk mengatakan bahwa dia menginginkan perdamian dan menentang aksi terorisme," ungkap Perez.
"Seorang diplomat tidak seharusnya untuk menakut-nakuti dunia. Sebagai seorang diplomat, lebih baik bertingkah seperti singa berbulu domba daripada bertindak sebagai domba yang mengaum seperti singa dan mencoba menakut-nakuti dunia. Tujuan diplomasi adalah mencari teman bukan untuk menyingkirkan musuh," ungkap Peres seperti diberitakan dalam Xinhua, Senin (31/12/2012).
Dihadapan 160 diplomat manca negara Peres berulangkali mengatakan tidak ada mitra lain selain Abu Mazen (Mahmud Abbas), dia merupakan satu-satunya pemimpin Arab yang dapat mencapai kesepakatan dengan pemimpin Israel. "Saya sudah mengenal dia selama 30 tahun, pendapat seseorang tidak akan mengubah pendapat saya tentang dia," ungkap Perez.
Peres mengatakan tidak semua yang dillakukan Abbas adalah tindakan tercela, tapi dia tidak setuju dengan dengan ungkapan PM Netanyahu. "Netanyahu mengatakan, Abbas memang mendukung perdamian namun dia telah gagal mengutuk aksi penembakan roket ke wilayah Israel yang dilakukan oleh Hamas," ungkap Peres seperti diberitakan Jpost.
Dalam kesempatan tersebut Peres mengajak semua diplomat untuk melihat sikap Abbas yang sangat terbuka mendukung perdamian Israel dan Palestina. "Saya mengajak semua duta besar yang hadir untuk menemparkan diri anda pada posisi Abbas, dan tanyakan pada diri kalian apakah kalian siap hilangan wilayah tempat anda dilahirkan. Seperti diketahui, dia siap berdamai dengan Israel dan siap menanggung risiko kehilangan tanah kelahiran dengan mengatakan tidak akan kembali ke sana,"ungkap Peres.
Peres mengatakan sebagian seorang pemimpin, Abbas sepatutnya mendapat pujian atas keberanian menanggung semua resiko atas tindakanya mendukung mengupayakan perdamian. "Saya tahu ada banyak kritik yang dia ungkapkan, tapi sebagai seorang pemimpin arab dibutuhkan sebuah keberanian besar untuk mengatakan bahwa dia menginginkan perdamian dan menentang aksi terorisme," ungkap Perez.
(esn)