AS bekukan aktivitas Kedubes di Republik Afrika Tengah
Jum'at, 28 Desember 2012 - 23:53 WIB
AS bekukan aktivitas Kedubes di Republik Afrika Tengah
A
A
A
Sindonews.com – Pemerintah Amerika Serikat membekukan kegiatan operasi Kedutaan Besarnya di Republik Afrika Tengah (CAR), Kamis (27/12/2012). Menurut Departemen Luar Negeri AS, keputusan ini diambil karena masalah keamanan di CAR.
“Satu hari sebelumnya, Duta Besar AS untuk CAR, Lawrence D. Wohlers dan sejumlah staf diplomatik meninggalkan Ibu Kota CAR, Bangui. Turut serta bersama mereka sejumlah warga negara AS,” kata Patrick Ventrell, Wakil Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS, seperti dikutip dari Xinhua.
Menurut Ventrell, AS mengutamakan keselamatan warga mereka. "Keputusan ini semata-mata karena kekhawatiran tentang keamanan personil kami dan tidak ada hubungannya dengan hubungan berkelanjutan dan diplomatik kami dengan CAR," kata Ventrell.
Beberapa hari terakhir ini, kaum pemberontak CAR telah mendekati Bangui. Gerakan pemberontak ini jadi masalah keamanan terbesar sejak terbentuknya pemerintahan negara itu pada 2009. Sebuah misi PBB telah bekerja di negara itu untuk membantu pemerintah mengatasi perselisihan yang sudah berlangsung ebih dari satu dekade.
Dalam pernyataan itu, Ventrell juga mendesak semua pihak di negara itu untuk berpartisipasi dalam dialog yang disponsori oleh Masyarakat Ekonomi Negara Afrika Tengah, dalam rangka untuk membentuk perjanjian damai yang komprehensif.
Pemerintah CAR sendiri sudah kehilangan kendali atas Kota Bandoro Kaga. Pemberontak yang menamakan diri Seleka itu, telah menguasai kota tersebut dan berencana untuk mengambil alih kota-kota lainnya.
“Satu hari sebelumnya, Duta Besar AS untuk CAR, Lawrence D. Wohlers dan sejumlah staf diplomatik meninggalkan Ibu Kota CAR, Bangui. Turut serta bersama mereka sejumlah warga negara AS,” kata Patrick Ventrell, Wakil Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS, seperti dikutip dari Xinhua.
Menurut Ventrell, AS mengutamakan keselamatan warga mereka. "Keputusan ini semata-mata karena kekhawatiran tentang keamanan personil kami dan tidak ada hubungannya dengan hubungan berkelanjutan dan diplomatik kami dengan CAR," kata Ventrell.
Beberapa hari terakhir ini, kaum pemberontak CAR telah mendekati Bangui. Gerakan pemberontak ini jadi masalah keamanan terbesar sejak terbentuknya pemerintahan negara itu pada 2009. Sebuah misi PBB telah bekerja di negara itu untuk membantu pemerintah mengatasi perselisihan yang sudah berlangsung ebih dari satu dekade.
Dalam pernyataan itu, Ventrell juga mendesak semua pihak di negara itu untuk berpartisipasi dalam dialog yang disponsori oleh Masyarakat Ekonomi Negara Afrika Tengah, dalam rangka untuk membentuk perjanjian damai yang komprehensif.
Pemerintah CAR sendiri sudah kehilangan kendali atas Kota Bandoro Kaga. Pemberontak yang menamakan diri Seleka itu, telah menguasai kota tersebut dan berencana untuk mengambil alih kota-kota lainnya.
(esn)