Rusia minta pelaku penembak helikopter PBB dihukum
Sabtu, 22 Desember 2012 - 23:45 WIB
Rusia minta pelaku penembak helikopter PBB dihukum
A
A
A
Sindonews.com – Pemerintah Rusia mendesak Pemerintah Sudan Selatan untuk menghukum pihak-pihak yang bertanggungjawab atas penembakan sebuah helikopter MI-8 milik Rusia yang tergabung dalam misi PBB di Sudan Selatan.
Helikopter itu ditembak jatuh oleh Tentara Pembebasan Rakyat Sudan (SPLA), Jumat 21 Desember, saat sedang melintas di negara bagian Jonglei, sebelah timur Sudan Selatan. Akibat insiden ini, empat awak helikopter yang semuanya berkebangsaan Rusia tewas.
"Kami menyerukan kepada pemerintah Sudan Selatan untuk melaksanakan penyelidikan yang diperlukan dan menghukum yang bersalah, serta mengambil setiap langkah untuk menjamin bahwa hal ini tidak pernah terjadi lagi," kata pernyataan Kementerian Luar Negeri Rusia, Sabtu (22/12/2012), seperti dikutip dari Reuters.
Insiden penembakan ini mendapat kecaman keras dari PBB. Sekjen PBB, Ban Ki-moon mengatakan, helikopter itu jelas-jelas ditandai dengan lambang dan huruf PBB. Ki-moon menuntut agar mereka yang bertanggungjawab atas insiden ini dibawa ke pengadilan. Ia juga menyampaikan rasa belasungkawa atas para korban tewas.
"Sekjen menyerukan kepada Pemerintah Sudan Selatan untuk segera melaksanakan investigasi dan membawa mereka yang bertanggung jawab atas tindakan ini ke pengadilan," sebut pernyataan Sekjen PBB.
Juru Bicara Militer Sudan Selatan, Philip Aguer mengatakan, pihaknya sempat menanyakan pada misi PBB di Sudan Selatan, UNMISS, apakah ada pesawat PBB di wilayah Likuangole. Menurut Aguer, UNMISS menyatakan tak ada pesawat PBB di wilayah tersebut.
Aguer juga menuduh, bahwa helikopter itu terlihat mendarat di sebuah pangkalan milik kaum pemberontak pimpinan David Yau Yau. “Saat pasukan SPLA mendekati daerah itu, helikopter itu lepas landas. Unit artileri SPLA pun melepaskan tembakan ke helikopter tersebut,” jelas Aguer.
Helikopter itu ditembak jatuh oleh Tentara Pembebasan Rakyat Sudan (SPLA), Jumat 21 Desember, saat sedang melintas di negara bagian Jonglei, sebelah timur Sudan Selatan. Akibat insiden ini, empat awak helikopter yang semuanya berkebangsaan Rusia tewas.
"Kami menyerukan kepada pemerintah Sudan Selatan untuk melaksanakan penyelidikan yang diperlukan dan menghukum yang bersalah, serta mengambil setiap langkah untuk menjamin bahwa hal ini tidak pernah terjadi lagi," kata pernyataan Kementerian Luar Negeri Rusia, Sabtu (22/12/2012), seperti dikutip dari Reuters.
Insiden penembakan ini mendapat kecaman keras dari PBB. Sekjen PBB, Ban Ki-moon mengatakan, helikopter itu jelas-jelas ditandai dengan lambang dan huruf PBB. Ki-moon menuntut agar mereka yang bertanggungjawab atas insiden ini dibawa ke pengadilan. Ia juga menyampaikan rasa belasungkawa atas para korban tewas.
"Sekjen menyerukan kepada Pemerintah Sudan Selatan untuk segera melaksanakan investigasi dan membawa mereka yang bertanggung jawab atas tindakan ini ke pengadilan," sebut pernyataan Sekjen PBB.
Juru Bicara Militer Sudan Selatan, Philip Aguer mengatakan, pihaknya sempat menanyakan pada misi PBB di Sudan Selatan, UNMISS, apakah ada pesawat PBB di wilayah Likuangole. Menurut Aguer, UNMISS menyatakan tak ada pesawat PBB di wilayah tersebut.
Aguer juga menuduh, bahwa helikopter itu terlihat mendarat di sebuah pangkalan milik kaum pemberontak pimpinan David Yau Yau. “Saat pasukan SPLA mendekati daerah itu, helikopter itu lepas landas. Unit artileri SPLA pun melepaskan tembakan ke helikopter tersebut,” jelas Aguer.
(esn)