Usai ditangkap, PM Mali undur diri
Selasa, 11 Desember 2012 - 15:50 WIB
Usai ditangkap, PM Mali undur diri
A
A
A
Sindonews.com - Beberapa jam setelah ditangkap oleh sejumlah petugas keamanan Mali, Perdana Menteri Mali, Cheick Modibo Diarra mengundurkan diri dari jabatanya, Selasa (11/12/2012). Diarra ditangkap karena mencoba meninggalkan Mali menuju Prancis.
"Saya, Cheick Modibo Diarra, dengan ini menyatakan pengunduran diri dari seluruh tugas pemerintahan pada Selasa, 11 Desember 2012," ungkap Diarra dengan gugup dalam siaran langsung TV Mali.
Bakary Mariko, Juru Bicara Militer yang melakukan kudeta pada pemerintah Mali Maret lalu mengatakan, Diarra ditangkap karena dia tidak berusaha keras menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh bangsa Mali.
"Negara ini dalam kondisi kritis, tapi dia malah menghalangi institusi," ungkap Mariko seperti dilansir Reuters. "Petugas keamanan kali ini tidak melakukan kudeta terhadap pemerintah. Presiden masih berada di Istana Kepresidenannya, tetapi PM tidak bekerja untuk melayani kepentingan negara," terang Mariko.
Penangkapan dan pengunduran PM Mali yang baru menjabat setelah kudeta militer Maret lalu ini akan mempersulit upaya untuk menstabilkan keamanan di Mali. Pasalnya, kondisi keamanan di wilayah utara Mali belum kembali normal, pemberontak Tuareg dan Ansar Dine semakin berkuasa di wilayah itu.
Keberadaan pemberontak dan militan Mali semakin mengkhawatirkan penduduk dan pemerintah Mali. Pasalnya, kelompok bersenjata yang berkaitan dengan jaringan al-Qaeda ini terus merekrut penduduk setempat, termasuk anak-anak dan tidak segan-segan mendatangkan pejuang asing.
"Saya, Cheick Modibo Diarra, dengan ini menyatakan pengunduran diri dari seluruh tugas pemerintahan pada Selasa, 11 Desember 2012," ungkap Diarra dengan gugup dalam siaran langsung TV Mali.
Bakary Mariko, Juru Bicara Militer yang melakukan kudeta pada pemerintah Mali Maret lalu mengatakan, Diarra ditangkap karena dia tidak berusaha keras menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh bangsa Mali.
"Negara ini dalam kondisi kritis, tapi dia malah menghalangi institusi," ungkap Mariko seperti dilansir Reuters. "Petugas keamanan kali ini tidak melakukan kudeta terhadap pemerintah. Presiden masih berada di Istana Kepresidenannya, tetapi PM tidak bekerja untuk melayani kepentingan negara," terang Mariko.
Penangkapan dan pengunduran PM Mali yang baru menjabat setelah kudeta militer Maret lalu ini akan mempersulit upaya untuk menstabilkan keamanan di Mali. Pasalnya, kondisi keamanan di wilayah utara Mali belum kembali normal, pemberontak Tuareg dan Ansar Dine semakin berkuasa di wilayah itu.
Keberadaan pemberontak dan militan Mali semakin mengkhawatirkan penduduk dan pemerintah Mali. Pasalnya, kelompok bersenjata yang berkaitan dengan jaringan al-Qaeda ini terus merekrut penduduk setempat, termasuk anak-anak dan tidak segan-segan mendatangkan pejuang asing.
(esn)