Puluhan ribu warga Kuwait gelar aksi demo
Minggu, 09 Desember 2012 - 08:00 WIB
Puluhan ribu warga Kuwait gelar aksi demo
A
A
A
Sindonews.com – Puluhan ribu warga Kuwait melakukan aksi unjuk rasa di Kuwait City, Sabtu (8/12/2012), untuk memprotes pembentukan parlemen yang baru. Sebelumnya, kaum oposisi memang menyerukan boikot pada pemilu parlemen Kuwait. Namun, pemilu parlemen tetap berlangsung.
Pihak oposisi, yang mencakup Politisi Islam dan tokoh-tokoh populer mengatakan, para pemilih dirancang untuk mendukung kandidat pro-pemerintah. Mereka menganggap hal ini tidak adil dan akhirnya menyerukan aksi boikot.
Aksi demo ini juga diikuti oleh kaum perempuan dan anak-anak. Mereka mengenakan baju warna oranye, yang merupakan simbol dari gerakan protes. Para demonstran berbaris di sepanjang jalan di tepi pantai Ibu Kota, menuju Kuwait Towers.
Para demonstran meminta pemerintah membatalkan dekrit. Para pengunjuk rasa mengatakan, mereka ingin reformasi politik yang lebih luas di Kuwait, tetapi tidak sampai menciptakan sebuah revolusi, seperti yang terjadi di Libya, Irak, dan sejumlah negara Arab lainnya
"Kami menolak pemilu terakhir, karena sistem satu suara dan karena sebagian besar orang tidak berpartisipasi. Kami ingin kembali ke sistem empat suara dan dilangsungkan pemilu baru," kata Saad al-Zobi (21), seorang mahasiswa Kuwait yang ikut dalam aksi protes itu, seperti dikutip dari Reuters.
Pihak oposisi, yang mencakup Politisi Islam dan tokoh-tokoh populer mengatakan, para pemilih dirancang untuk mendukung kandidat pro-pemerintah. Mereka menganggap hal ini tidak adil dan akhirnya menyerukan aksi boikot.
Aksi demo ini juga diikuti oleh kaum perempuan dan anak-anak. Mereka mengenakan baju warna oranye, yang merupakan simbol dari gerakan protes. Para demonstran berbaris di sepanjang jalan di tepi pantai Ibu Kota, menuju Kuwait Towers.
Para demonstran meminta pemerintah membatalkan dekrit. Para pengunjuk rasa mengatakan, mereka ingin reformasi politik yang lebih luas di Kuwait, tetapi tidak sampai menciptakan sebuah revolusi, seperti yang terjadi di Libya, Irak, dan sejumlah negara Arab lainnya
"Kami menolak pemilu terakhir, karena sistem satu suara dan karena sebagian besar orang tidak berpartisipasi. Kami ingin kembali ke sistem empat suara dan dilangsungkan pemilu baru," kata Saad al-Zobi (21), seorang mahasiswa Kuwait yang ikut dalam aksi protes itu, seperti dikutip dari Reuters.
(esn)