Kuwait perbolehkan aksi unjuk rasa
Selasa, 27 November 2012 - 20:37 WIB
Kuwait perbolehkan aksi unjuk rasa
A
A
A
Sindonews.com – Pemerintah Kuwait akhirnya melegalkan aksi unjuk rasa di negara itu. Pemerintah memperbolehkan demonstran untuk turun ke jalan, hingga satu hari sebelum pemilihan Parlemen yang rencananya akan dilangsungkan pada 1 Desember mendatang.
Perdana Menteri Kuwait, Sheikh Jaber al-Mubarak al-Sabah mengakui kebijakan ini diambil sebagai upaya untuk meredakan ketegangan. "Penyelenggara aksi demo mendapat lisensi dari layanan keamanan yang bersangkutan, sehingga pemerintah tak punya hak apa-apa untuk melarang pawai," kata al-Sabah seperti dikutip dari kantor berita KUNA, Senin (26/11/2012) malam.
Sejak akhir Oktober, ribuan warga Kuwait secara rutin menggelar aksi demonstrasi. Mereka memprotes putusan Emir Kuwait, Sheikh Sabah al-Ahmad al-Sabah yang hanya memperbolehkan seseorang memilih satu kandidat dalam pemilu mendatang. Sebelumnya, seorang pemilih berhak memilih empat kandidat.
Gerakan oposisi, yang mencakup kelompok pemuda dan mantan anggota parlemen, telah menyerukan boikot pemilu di negara produsen minyak sekuta Amerika Serikat itu.
“Perubahan undang-undang pemilu adalah kudeta terhadap konstitusi dan kami menyerukan aksi protes,” kata seorang politisi dari pihak oposisi, Ahmed al-Dayen. Kubu oposisi di Kuwait memang cukup kuat. Sebab, mereka menguasai mayoritas parlemen.
Perdana Menteri Kuwait, Sheikh Jaber al-Mubarak al-Sabah mengakui kebijakan ini diambil sebagai upaya untuk meredakan ketegangan. "Penyelenggara aksi demo mendapat lisensi dari layanan keamanan yang bersangkutan, sehingga pemerintah tak punya hak apa-apa untuk melarang pawai," kata al-Sabah seperti dikutip dari kantor berita KUNA, Senin (26/11/2012) malam.
Sejak akhir Oktober, ribuan warga Kuwait secara rutin menggelar aksi demonstrasi. Mereka memprotes putusan Emir Kuwait, Sheikh Sabah al-Ahmad al-Sabah yang hanya memperbolehkan seseorang memilih satu kandidat dalam pemilu mendatang. Sebelumnya, seorang pemilih berhak memilih empat kandidat.
Gerakan oposisi, yang mencakup kelompok pemuda dan mantan anggota parlemen, telah menyerukan boikot pemilu di negara produsen minyak sekuta Amerika Serikat itu.
“Perubahan undang-undang pemilu adalah kudeta terhadap konstitusi dan kami menyerukan aksi protes,” kata seorang politisi dari pihak oposisi, Ahmed al-Dayen. Kubu oposisi di Kuwait memang cukup kuat. Sebab, mereka menguasai mayoritas parlemen.
(esn)