Presiden Mauritania kembali ke tanah air
Minggu, 25 November 2012 - 17:22 WIB
Presiden Mauritania kembali ke tanah air
A
A
A
Sindonews.com - Presiden Mauritania Mohamed Ould Abdel Aziz kembali ke tanah airnya, Sabtu (24/11/2012), setelah satu bulan lebih menjalani pemulihan medis di Perancis. Kembalinya Aziz ke Mauritania ini, melenyapkan kekhawatiran mengenai kondisi kesehatan dan ketidakpastian soal kemampuan Aziz untuk mengelola negaranya.
Aziz yang dikenal sebagai sekutu Barat dalam memerangi al-Qaeda di Afrika, terbang ke Paris pada 14 Oktober, setelah tentara menembaki mobil yang ditumpanginya. Aziz sendiri terluka dalam serangan bersenjata itu.
Ada beberapa versi soal serangan itu, yang hingga kini membuat banyak pihak bertanya-tanya, siapa sebenarnya yang harus bertanggungjawab. Pemerintah Mauritania sendiri menyebut serangan ini sebagai insiden yang “tidak disengaja”.
Apapun juga, kembali Aziz ke tanah air, membuat gembira para pendukungnya. Ribuan simpatisan Presiden Aziz, yang sebagian menunggang unta, dengan sabar menunggu kedatangannya di bandara. Mereka membawa gambar Presiden Aziz dan mengibarkan spanduk selamat datang.
"Saya agak khawatir, tapi sekarang saya yakin ia akan menyelesaikan amanah yang diberikan Allah padanya. Kami berharap ia selalu sehat,” kata Mariet Oumar Ndiaye, salah satu pendukung Aziz.
Aziz disambut sejumlah Menteri dalam pemerintahannya dan para pejabat militer di landasan bandara. Aziz tidak membuat pernyataan apa pun setibanya di tanah air. Ia duduk di belakang sebuah mobil tak beratap dan berjabat tangan serta melambaikan tangan pada warga yang menyambutnya.
"Penting untuk datang dan melihat presiden, karena kami mendengar banyak rumor," kata Alassane, seorang mahasiswa yang melakukan perjalanan ke bandara untuk menyambut kedatangan Aziz. "Pihak oposisi mengatakan, ia tak mampu menjalankan negara dan dia telah lumpuh. Itulah sebabnya kami datang ke sini, untuk memastikan," lanjut Alassane.
Aziz yang dikenal sebagai sekutu Barat dalam memerangi al-Qaeda di Afrika, terbang ke Paris pada 14 Oktober, setelah tentara menembaki mobil yang ditumpanginya. Aziz sendiri terluka dalam serangan bersenjata itu.
Ada beberapa versi soal serangan itu, yang hingga kini membuat banyak pihak bertanya-tanya, siapa sebenarnya yang harus bertanggungjawab. Pemerintah Mauritania sendiri menyebut serangan ini sebagai insiden yang “tidak disengaja”.
Apapun juga, kembali Aziz ke tanah air, membuat gembira para pendukungnya. Ribuan simpatisan Presiden Aziz, yang sebagian menunggang unta, dengan sabar menunggu kedatangannya di bandara. Mereka membawa gambar Presiden Aziz dan mengibarkan spanduk selamat datang.
"Saya agak khawatir, tapi sekarang saya yakin ia akan menyelesaikan amanah yang diberikan Allah padanya. Kami berharap ia selalu sehat,” kata Mariet Oumar Ndiaye, salah satu pendukung Aziz.
Aziz disambut sejumlah Menteri dalam pemerintahannya dan para pejabat militer di landasan bandara. Aziz tidak membuat pernyataan apa pun setibanya di tanah air. Ia duduk di belakang sebuah mobil tak beratap dan berjabat tangan serta melambaikan tangan pada warga yang menyambutnya.
"Penting untuk datang dan melihat presiden, karena kami mendengar banyak rumor," kata Alassane, seorang mahasiswa yang melakukan perjalanan ke bandara untuk menyambut kedatangan Aziz. "Pihak oposisi mengatakan, ia tak mampu menjalankan negara dan dia telah lumpuh. Itulah sebabnya kami datang ke sini, untuk memastikan," lanjut Alassane.
(esn)